Preloader
Binokular Hubungi Kami
Testimoni

Siapa yang Menguasai Uang di Era Blockchain?

Saat Bitcoin lahir pada 2008, jawabannya terdengar sederhana: tidak ada pihak tunggal, karena uang bisa berpindah langsung antarpengguna tanpa bank. Hampir dua dekade kemudian, arahnya berbalik. Pada 21 September 2026, Eurosystem, jaringan bank sentral kawasan euro yang dipimpin ECB, meluncurkan Pontes. Sistem ini menghubungkan platform blockchain dengan uang bank sentral untuk menyelesaikan transaksi aset keuangan.

Artinya, bank sentral kini ikut memakai blockchain agar uang yang mereka terbitkan tetap menjadi jangkar sistem keuangan digital. Stablecoin dan deposito tokenisasi (tokenised deposits) tetap beredar di atasnya. Namun bank sentral ingin tetap memegang tempat akhir penyelesaian transaksi.

Apa itu Pontes ECB?

Pontes adalah jembatan antara platform DLT (distributed ledger technology, keluarga teknologi blockchain) milik pelaku pasar dan infrastruktur pembayaran Eurosystem. Menurut halaman resmi Pontes di situs ECB, Pontes menghubungkan platform DLT dengan TARGET Services, sistem pembayaran antarbank milik Eurosystem. Penyelesaian akhir sisi tunainya terjadi di T2, sistem pembayaran real-time milik Eurosystem.

Bayangkan sebuah obligasi sudah ditokenisasi dan diperdagangkan di jaringan DLT. Kepemilikannya berpindah secara digital, tetapi pembeli masih harus membayar. Ada tiga pilihan uang untuk itu: uang bank komersial yang ditokenisasi, stablecoin, atau uang bank sentral lewat Pontes. Dua pilihan pertama membawa risiko kredit penerbitnya, dan institusi besar enggan menanggung risiko itu.

Minat pasar terlihat sejak hari pertama. Menurut ECB, 13 peserta pasar, antara lain Deutsche Bank, Santander, dan Société Générale, serta 4 operator DLT sudah menyelesaikan onboarding dan siap memakai Pontes. Deutsche Bundesbank juga ikut terdaftar sebagai peserta pasar.

Layanan awal Pontes masih terbatas. Eurosystem akan menambah fitur dan memperpanjang jam operasional secara bertahap hingga implementasi penuh pada 2028. Pesertanya pun khusus: menurut ECB, peserta yang memenuhi syarat adalah entitas yang punya akses ke T2.

Piero Cipollone, anggota Dewan Eksekutif ECB, menyebut Pontes membawa “stabilitas dan kepercayaan uang bank sentral ke ekosistem keuangan tokenisasi Eropa”. Pernyataan itu menunjukkan tujuan yang lebih besar dari sekadar membangun blockchain versi bank sentral. ECB ingin uang bank sentral tetap berada di dalam sistem ketika infrastruktur keuangan berubah.

Mengapa Pontes penting?

Blockchain kini masuk ke infrastruktur pasar keuangan lewat tokenisasi. Saham, obligasi, dan surat utang dicatat sebagai token digital di jaringan yang bisa diprogram. BIS mencatat tiga keuntungannya: uang dan aset bisa diprogram, penyelesaian bisa berlangsung serentak, dan operasional bisa berjalan sepanjang waktu.

Masalahnya, mengubah obligasi menjadi token belum menuntaskan transaksi. Pembeli tetap harus membayar, dan pembayaran itu membutuhkan uang yang dipercaya semua pihak. Dalam uji coba Eurosystem pada 2024, lebih dari 50 percobaan melibatkan 64 peserta dari sektor publik dan swasta. Menurut rilis ECB, para peserta menyebut akses ke aset penyelesaian yang bebas risiko sebagai syarat penting agar teknologi ini diadopsi lebih luas.

Di jaringan blockchain, ada tiga kandidat uang untuk membayar. Stablecoin diterbitkan perusahaan swasta dan nilainya dipatok ke mata uang tertentu. Deposito tokenisasi adalah simpanan bank biasa yang diterbitkan bank komersial dan dicatat di platform yang bisa diprogram. Uang bank sentral adalah cadangan yang disimpan bank di bank sentral, bentuk uang paling aman karena tidak membawa risiko kredit penerbit.

Penggunanya pun berbeda. Uang bank sentral dipakai bank dan lembaga keuangan, deposito tokenisasi dipakai nasabah bank dan pelaku pasar, sedangkan stablecoin paling banyak dipakai pengguna kripto dan aplikasi keuangan terdesentralisasi. Risiko deposito tokenisasi tetap berada dalam sistem perbankan yang diawasi dan diselesaikan di uang bank sentral. Nilai stablecoin bergantung pada cadangan penerbitnya dan bisa menyimpang dari patokan di pasar sekunder.

Pablo Hernández de Cos, General Manager Bank for International Settlements (BIS), membahas perbedaan ini dalam pidatonya di Jackson Hole pada 28 Agustus 2026. Menurutnya, uang berfungsi karena diterima “tanpa banyak pertanyaan” sebagai penyelesaian akhir sebuah kewajiban (diterjemahkan). Sistem moneter modern menjaga sifat itu lewat dua lapis: uang bank sentral sebagai jangkar, dan uang yang disalurkan lembaga swasta yang diawasi.

Hernández de Cos memberi contoh sederhana. Ben memegang USDT dan ingin mengirim satu dolar ke Marie, yang hanya menerima USDC. Ben harus menjual USDT di pasar sekunder lalu membeli USDC, dan kursnya belum tentu tepat satu banding satu. Deposito tokenisasi tidak punya masalah ini karena antarbank tetap menyelesaikan transaksinya di rekening bank sentral.

Dari kerangka itu, BIS mengambil posisi yang jelas. Deposito tokenisasi sebaiknya menanggung sebagian besar pembayaran sehari-hari dan penyelesaian wholesale, dengan penyelesaian akhir di uang bank sentral. Stablecoin mendapat peran khusus, misalnya di pool pinjaman terdesentralisasi, di bawah aturan yang ketat. Pontes adalah wujud konkret posisi itu di Eropa.

Bagaimana blockchain berubah arah dari desentralisasi?

Arah ini berbalik dari cita-cita awal blockchain. Pada 31 Oktober 2008, Satoshi Nakamoto menerbitkan whitepaper Bitcoin, yang menawarkan uang elektronik peer-to-peer yang bisa dikirim langsung antarpihak tanpa melalui lembaga keuangan. Bagi banyak pendukungnya, Bitcoin menjanjikan uang yang tidak dikendalikan bank maupun bank sentral.

Janji itu segera berbenturan dengan persoalan hukum. Silk Road, pasar gelap di darkweb yang beroperasi sejak Februari 2011, hanya menerima pembayaran dalam bitcoin. FBI menutupnya pada Oktober 2013 dan menangkap pendirinya, Ross Ulbricht. Sejak itu, bitcoin lama dicap sebagai uang para penjahat yang tidak bisa dilacak.

Cap itu hanya benar sebagian. Transaksi bitcoin tercatat permanen di buku besar publik, sehingga sifatnya pseudonim: alamat dompet terlihat, identitas pemiliknya tidak. Dalam persidangan Ulbricht, agen FBI Ilhwan Yum bersaksi bahwa ia melacak 3.760 transaksi antara server Silk Road dan laptop Ulbricht selama 12 bulan hingga Agustus 2013. Totalnya lebih dari 700.000 bitcoin yang ia telusuri lewat blockchain.

Kekhawatiran regulator kemudian bergeser ke stablecoin. BIS kini menyoroti bahwa sebagian besar saldo stablecoin tersimpan di dompet yang dikelola sendiri oleh pemiliknya, sehingga aturan antipencucian uang sulit ditegakkan. Regulator menjawabnya dengan aturan seperti MiCA di Eropa, dan bank sentral mulai membangun infrastruktur blockchain versi mereka sendiri. Janji uang tanpa kendali memudar, sementara teknologinya justru diadopsi lembaga yang dulu hendak dilewatinya.

Apa efek Pontes bagi uang dan sistem keuangan?

Efek Pontes terasa di tiga lapis: pasar keuangan, stablecoin, dan perdebatan soal kendali atas uang. Lapis pertama sudah berjalan, sementara dua lainnya masih ditentukan lewat aturan yang sedang disusun.

Bagi bank dan pasar keuangan

Bank dan pelaku pasar kini bisa menyelesaikan transaksi aset tokenisasi dengan bentuk uang paling aman. ECB ikut memakai jalurnya sendiri. Pada hari peluncuran Pontes, ECB mengumumkan rencana menaruh sebagian kecil dana miliknya di sekuritas tokenisasi, dengan penyelesaian lewat Pontes. Sasaran awalnya sekuritas dalam euro terbitan pemerintah pusat dan daerah, lembaga, serta institusi supranasional Eropa.

Pontes juga bagian dari Appia, inisiatif strategis jangka panjang Eurosystem yang diumumkan pada Maret 2026 dengan target blueprint pada 2028. Menurut Euronews, Eropa masih mengejar Amerika Serikat. New York Stock Exchange sedang membangun tempat perdagangan saham dan dana tokenisasi yang buka sepanjang waktu, sementara Pontes masih beroperasi dalam jam pasar. Iana Dimitrova, CEO OpenPayd, juga menilai Pontes masih bergantung pada infrastruktur TARGET yang ada untuk finalitas penyelesaian.

Bagi stablecoin

Bagi penerbit stablecoin, ada dua sinyal. Bank sentral ingin menjadi jangkar, dan aturan mainnya makin ketat. Pasar yang diatur ini terus membesar. Menurut Deloitte, yang mengutip data Visa Onchain Analytics, rata-rata pasokan stablecoin global mencapai $273 miliar pada Desember 2025, naik 47% dari Desember 2024.

Di Eropa, aturan MiCA mewajibkan penerbit stablecoin menyimpan minimal 30% cadangan sebagai deposito bank, dan 60% untuk stablecoin yang tergolong signifikan. Pada 22 September 2026, ECB bersama bank sentral nasional Uni Eropa meminta aturan itu dihapus. Mereka khawatir penarikan besar-besaran stablecoin akan menguras dana bank dalam waktu singkat. ECB juga meminta larangan pemberian imbal hasil atas stablecoin diperluas.

Bagi uang tunai dan privasi: wilayah euro digital, bukan Pontes

Kekhawatiran bahwa uang tunai akan tergusur perlu dipilah. Pontes hanya melayani transaksi wholesale antara bank dan infrastruktur pasar, sehingga tidak menyentuh uang tunai maupun dompet masyarakat. Proyek yang menyasar masyarakat adalah euro digital. Menurut ECB, euro digital dapat diterbitkan pada 2029 jika regulasinya diadopsi pada 2026, dengan pilot yang melibatkan 36 penyedia pembayaran mulai September 2027.

ECB menyatakan euro digital dirancang untuk melengkapi uang tunai, dan uang tunai tetap berstatus alat pembayaran yang sah. Presiden ECB Christine Lagarde menegaskannya kepada Euronews: “Uang tunai tidak akan hilang, ia akan diremajakan” (diterjemahkan). Dalam wawancara yang sama, Lagarde juga menolak anggapan bahwa euro digital dirancang agar bank sentral bisa memantau pembayaran.

Perdebatan yang lebih tajam menyangkut kendali dan privasi. Parlemen Eropa menyetujui pembukaan negosiasi euro digital pada 9 Juli 2026 dengan 416 suara setuju, 169 menolak, dan 22 abstain. Pengkritik seperti ekonom Daniel Lacalle dan organisasi Stichting Privacy First khawatir uang digital yang terpusat membuka jalan bagi pengawasan transaksi warga. Kelompok hak digital epicenter.works juga menulis surat terbuka. Isinya meminta ambang privasi yang jelas agar pembayaran sehari-hari bisa seprivat uang tunai.

Anggapan bahwa uang akan makin dikendalikan punya dasar dalam perdebatan ini, tetapi belum menjadi fakta. Hasilnya bergantung pada aturan privasi yang masih dinegosiasikan antara Parlemen, Dewan, dan Komisi Eropa.

Bagaimana dengan Indonesia dan Rupiah Digital?

Indonesia menempuh jalur yang mirip lewat Proyek Garuda, inisiatif Bank Indonesia untuk mengembangkan Rupiah Digital. Titik awalnya juga segmen wholesale. Pada 13 Desember 2024, BI menerbitkan laporan proof of concept berjudul “Project Garuda: Wholesale Rupiah Digital Cash Ledger”, yang menguji dua platform DLT untuk proses penerbitan, penebusan, dan transfer.

Dalam kerangka proyek ini, BI menegaskan perannya sebagai otoritas tunggal penerbit mata uang, termasuk mata uang digital. BI membagi pengembangannya ke dalam tiga tahap. Tahap pertama menggarap Rupiah Digital wholesale, dan tahap terakhir mengintegrasikan segmen wholesale dengan ritel secara menyeluruh.

Arah BI sejalan dengan Eropa: bank sentral ingin uangnya tetap hadir di lapisan penyelesaian ketika infrastruktur keuangan berubah. Eropa sudah mengoperasikan Pontes, sementara Rupiah Digital, menurut dokumen terbuka yang kami rujuk, masih berada di tahap pengujian. Karena itu, perdebatan privasi di Eropa layak diikuti pembaca di Indonesia, sebab pertanyaan yang sama bisa muncul ketika Rupiah Digital masuk ke segmen ritel.

Jadi, siapa yang menguasai uang di era blockchain?

Blockchain lahir dengan janji bahwa tidak ada pihak yang perlu menguasai uang. Di tingkat infrastruktur keuangan, janji itu kini berbalik arah. Bank sentral di Eropa, juga Bank Indonesia, memakai teknologi yang sama agar uang yang mereka terbitkan tetap menjadi jangkar. Stablecoin dan deposito tokenisasi tetap punya tempat, dan BIS melihat keduanya bisa hidup berdampingan selama uang bank sentral berfungsi sebagai jangkar.

Siapa yang menguasai uang di era blockchain ditentukan oleh tiga hal: siapa yang dipercaya sebagai tempat akhir penyelesaian transaksi, bagaimana sistem-sistemnya saling terhubung, dan aturan apa yang mengaturnya. Untuk saat ini, bank sentral memegang yang pertama, sementara dua hal lainnya masih diperebutkan lewat regulasi. Blockchain mungkin mengubah cara aset berpindah, tetapi satu pertanyaan tetap sama: ketika semuanya menjadi digital, siapa yang memastikan uang tetap bisa dipercaya?

Kepercayaan itu juga terbentuk di ruang publik, lewat cara media memberitakan dan cara masyarakat membicarakan stablecoin, aset kripto, dan uang digital. Di Binokular, kami memantau semua narasi yang diberitakan oleh media, Newstensity untuk pemberitaan media dan Socindex untuk percakapan media sosial, kami membantu agar pergeseran kepercayaan publik bisa terbaca lebih awal.

Kontributor



Analisis Lainnya

Cara Membedakan Buzzer AI dan Opini Publik Asli

Cara membedakan buzzer AI dan opini publik asli tidak bisa lagi bertumpu pada isi teks. AI generatif kini menulis selancar…

Haruskah AI Diperlambat demi Keselamatan?

Perdebatan soal apakah pengembangan AI perlu diperlambat bukan lagi wacana pinggiran. Pada September 2026, CEO tiga perusahaan AI terbesar menyuarakan…

AI Visibility Brand: Siapa yang Ceritakan Brand Anda?

AI visibility brand adalah seberapa sering, seberapa akurat, dan dalam konteks apa sebuah brand muncul dalam jawaban yang dihasilkan mesin…

Polemik Desil Bansos: Analisis Framing Media vs BPS dalam Polemik DTSEN

Polemik desil bansos DTSEN 2026 bukan sekadar soal data yang salah. Pemantauan media (media monitoring) dan analisis percakapan digital menunjukkan…

Ekonomi Sachet: Membaca Daya Beli di Balik Angka PDB

Produk domestik bruto Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026. Angka ini melampaui perkiraan median ekonom yang berada di…

AI Mengubah Pendidikan: Risiko yang Jarang Dibicarakan

Kecerdasan buatan (AI) mengubah pendidikan lebih cepat dari kemampuan sebagian besar sistem pendidikan meresponsnya. Mesin kini bisa mencari informasi, merangkum…

Risiko Judul Berita bagi Investor: Kasus Rupiah vs IHSG

Satu Peristiwa, Dua Arah Pasar Senin 10 Agustus 2026, rupiah ditutup menguat 0,79% ke Rp17.755 per dolar AS. Pada hari…

Media Monitoring: Cara Mendeteksi Churnalism

Kamis, 30 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan lomba kota terbersih. Hadiahnya hingga Rp20 miliar untuk lima kota terbaik, dari…

Gap Narasi Media Massa vs Media Sosial: Kasus Tabanan

Pada Jumat dini hari, 24 Juli 2026, seorang pria berinisial KD asal Buleleng tewas diamuk massa. Kejadian ini berlangsung di…

Cara Memilih Micro-Influencer yang Tepat untuk Brand

Gen Z semakin menutup telinga dari iklan yang serba sempurna. Mereka justru menaruh kepercayaan pada rekomendasi micro-influencer atau konten kreator…