Bapak Michael Kusuma Head Of Investor Relations Sampoerna Agro
“Binokular mempermudah kami dalam memperoleh akses informasi/berita yang up-to-date. Laporan monitoringnya cukup komprehensif dan customizable serta fiturnya sangat berguna seperti news archive searching. Ragam layanan memungkinkan setiap personnel dengan tingkat mobilitas yang cukup tinggi untuk mengakses website/newletters/sms alert”
Bapak Arif Haryanto Corporate Communication Department PT Angkasa Pura I (Persero)
“Binokular adalah sebuah solusi cerdas! Memantau media yang tersebar di 13 daerah di kawasan tengah hingga timur Indonesia dimana bandara Angkasa Pura I berada menjadi mudah dan cepat dengan Binokular. Tingkat akurasi dan relevansi berita yang di-capture patut diacungi jempol. Fasilitas web service Binokular yang lengkap dan user friendly menjadikan pencarian dokumentasi berita menjadi lebih mudah. Binokular juga membantu kami dalam merespon dengan cepat setiap berita negatif yang muncul dengan layanan SMS alert-nya. Salut untuk semua inovasi ini, Binokular!”
Ibu Miranti Hadisusilo Corporate Secretary & Legal Director PT Matahari Department Store Tbk
“Binokular sangat membantu kami dalam melakukan media monitoring, baik untuk berita berkaitan dengan perusahaan, industri dan kompetitor. Informasi up to date itu perlu untuk melakukan analisa pasar dan dapat segera melakukan respon apabila dibutuhkan.”
Bapak Eko Harmonsyah PSHM Bank Indonesia
“Pekerjaan monitoring media menjadi lebih mudah dengan Binokular. Informasi yang diperlukan bisa dicari dengan cepat dan akurat dengan search engine-nya. Tampilan juga cukup user-friendly. Tapi yang paling penting adalah layanan yang responsif dan proaktif dari jajaran Binokular sangat membantu.”
Meningkatnya perhatian publik terhadap isu lingkungan memicu sorotan terhadap aksi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pembersihan ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di Jakarta, seiring populasinya yang dinilai kian masif. Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan salah satu spesies ikan dengan kemampuan adaptasi morfologi yang memungkinkannya bertahan di berbagai lingkungan perairan tawar. Keberadaan ikan ini di perairan Indonesia dapat menimbulkan dampak ekologis, terutama ketika spesies ini menjadi invasif dan bersaing dengan spesies lokal dalam memperebutkan ruang hidup.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebutkan bahwa jumlah populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta diperkirakan telah melebihi 60%. Hal itu menunjukkan dominasi spesies tersebut sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan. Ikan ini memiliki kemampuan adaptasi lingkungan yang tinggi, memangsa telur ikan lain, sehingga menyebabkan ikan endemik lokal sulit bertahan hidup. Selain itu, ikan sapu-sapu dinilai berbahaya apabila dikonsumsi karena potensi kandungan residu zat pencemar yang tinggi.
Aksi ini sebelumnya telah lebih dulu mendapat perhatian dari pegiat lingkungan Arief Kamarudin, yang mengungkapkan keresahan terhadap populasi ikan sapu-sapu yang membludak di wilayah ibu kota. Menurut pernyataan Arief, populasi ikan invasif yang cepat berkembang ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan sungai. Selain berkembang biak dengan cepat hingga mengancam stabilitas populasi ikan lokal, juga merusak dasar sungai karena perilaku penggalian dasar perairan.
Pemprov DKI Jakarta melakukan penanganan dengan menangkap ikan sapu-sapu secara serentak di lima wilayah kota sebagai Upaya menekan ledakan populasi tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari respons cepat dan inisiasi pemerintah dalam menindaklanjuti sorotan publik dan pegiat lingkungan terkait lonjakan populasi ikan invasif. Upaya pengendalian ini dipastikan oleh Pramono bahwa akan dilakukan secara berkelanjutan.
Salah satu unggahan yang diperoleh dari media sosial dengan respons audiens tertinggi terkait isu ini berasal dari akun TikTok @radioelshinta, menampilkan operasi pengendalian ikan sapu-sapu dengan penangkapan massal serentak di lima kota administrasi Jakarta dengan hasil total 6,98 ton pada hari Jumat, 17 April 2026. Ikan sapu-sapu hasil tangkapan mengandung residu logam berat tinggi sehingga dipastikan tidak dikonsumsi dan dilanjutkan dengan penguburan terkontrol.
Gambar 1. Unggahan dari TikTok @radioelshinta seputar isu pengendalian populasi ikan sapu-sapu oleh Pemprov DKI Jakarta.
Aksi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini disambut dengan berbagai respons luas dari warganet, mulai dari dukungan terhadap langkah pemerintah hingga kritik atas metode yang dinilai kontroversial.
Berdasarkan hasil monitoring menggunakan dashboardSocindex pada berbagai kanal media sosial (meliputi Twitter/X, Facebook, Instagram, YouTube, Threads, dan TikTok) menunjukkan bahwa isu operasi pemusnahan ikan sapu-sapu oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di lima wilayah kota administrasi Jakarta memperoleh total 43.447 percakapan. Pemantauan dilakukan dalam rentang waktu antara 14–21 April 2026 dengan menggunakan kata kunci yang berkaitan; Pemusnahan Ikan Sapu-sapu, Pengendalian Ikan Sapu-sapu, Polemik Ikan Sapu-sapu, MUI Pemprov DKI Jakarta, Majelis Ulama Indonesia Pemprov DKI, MUI Pemerintah Provinsi DKI, dan MUI Kritik DKI Jakarta.
Gambar 2. Pantauan Media Sosial dari Socindex seputar isu pengendalian populasi ikan sapu-sapu oleh Pemprov DKI Jakarta.
Reaksi Publik di Media Sosial
Warganet memberikan tanggapan beragam mengenai upaya dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pengendalian populasi ikan sapu-sapu. Mayoritas warganet mendukung program tersebut dan menilai tindakan dari pemerintah cepat tanggap dalam mengatasi urgensi lingkungan.
Gambar 3. Respons Positif Warganet seputar isu pengendalian populasi ikan sapu-sapu oleh Pemprov DKI Jakarta.
Di sisi lain, sebagian warganet menunjukkan reaksi negatif terhadap isu ini berupa kritik dan mempertanyakan efektivitas pemusnahan ikan sapu-sapu bagi lingkungan dan dalam jangka panjang. Seperti komentar yang mempertanyakan mengapa langsung dilakukan pemusnahan tanpa memanfaatkan terlebih dahulu, atau mengomentari pemerintah seharusnya memerhatikan isu lain yang lebih krusial dan menilai upaya ini tidaklah mendesak.
Gambar 4. Respons Negatif Warganet seputar isu pengendalian populasi ikan sapu-sapu oleh Pemprov DKI Jakarta.
Beragam tanggapan dari warganet merupakan respons yang dapat dipahami karena isu ini tidak hanya berkaitan dengan metode teknis pengendalian spesies invasif, namun juga pertimbangan etika kesejahteraan hewan dan dampaknya ke lingkungan. Perdebatan ini menunjukkan bahwa metode yang digunakan pun menjadi sorotan utama. Sebagian warganet menilai langkah tersebut efektif, namun di sisi lain mempertanyakan potensi risiko ekologis setelah dilakukan penguburan. Respons publik tidak hanya fokus pada kebijakan pemerintah, namun juga implementasi dari kebijakan tersebut dalam konteks tanggung jawab lingkungan setelah program berjalan.
Kritik MUI terhadap Metode Penguburan Ikan Sapu-sapu, dinilai sebagai “Tidak Memerhatikan Kesejahteraan Hewan”
Selain perdebatan publik mengenai metode pengendalian populasi ikan sapu-sapu yang dilakukan dengan cara penguburan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan kritik untuk metode tersebut, terutama dari sisi etika dan kesejahteraan hewan karena diduga sebagian ikan dikubur dalam kondisi masih hidup. MUI menilai bahwa praktik tersebut menyalahi dua prinsip utama dalam Islam, yaitu rahmatan lil ‘alamin serta prinsip kesejahteraan hewan.
Gambar 5. Kritik Majelis Ulama Indonesia terkait metode penguburan pada pengendalian populasi ikan sapu-sapu oleh Pemprov DKI Jakarta.
Meski demikian, MUI berpendapat bahwa kebijakan pengendalian populasi ini tepat dilakukan sebab karakter ikan sapu-sapu yang berpotensi mengancam populasi ikan endemik lokal di sungai daerah Jakarta.
Tanggapan dari MUI memperluas perdebatan yang sebelumnya fokus kepada dampak ekologis dan efektivitas metode yang dilakukan menjadi berkembang ke ranah etika dan moral kepada sesama makhluk hidup. Kebijakan mengenai lingkungan perlu dievaluasi secara berkelanjutan, termasuk bagaimana pelaksanaan dari program tersebut.
Gubernur Provinsi DKI Jakarta merespons kritik dari MUI dengan positif, menyatakan bahwa akan melakukan evaluasi terhadap metode pemusnahan ikan sapu-sapu yang dikubur dalam kondisi masih hidup dan memastikan melibatkan ahli dalam penyesuaian prosedurnya. Merujuk pada rekomendasi dari MUI, Pemerintah Kota Jakarta Selatan, sesuai arahan memastikan ikan sapu-sapu yang ditangkap sudah dalam kondisi mati sebelum dilakukan penguburan untuk menghindari pelanggaran terhadap etika kesejahteraan hewan.
Kesimpulan
Pemerintah berperan besar dalam pengendalian lingkungan. Operasi pemusnahan ikan sapu-sapu oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang sudah dinilai mengganggu keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta memperoleh dukungan dari warganet. Gerakan ini dinilai sebagai upaya melindungi keberlangsungan spesies lokal yang terancam oleh dominasi ikan invasif.
Namun, Langkah tersebut juga memicu diskusi publik mengenai metode pemusnahan yang digunakan, termasuk efektivitas dan potensi dampak lingkungannya dalam jangka Panjang. Pengendalian populasi memang diperlukan, dengan syarat dilaksanakan dengan pendekatan aman sesuai dan berbasis kajian ilmiah. Meskipun banyak memperolah dukungan dari publik, kebijakan pengelolaan lingkungan tetap membutuhkan pertimbangan ekologis yang menyeluruh dan matang. Polemik ini menunjukkan tingginya kepedulian publik terhadap isu lingkungan, sekaligus menegaskan bahwa kebijakan dari pemerintah tidak lepas dari sorotan publik di media sosial.
Setelah membahas playbook geopolitik di artikel sebelumnya, pertanyaanya kini lebih konkret: bagaimana perusahaan merespon dan beradaptasi sejak konflik AS-Iran mulai…
Hampir tepat sebulan setelah perang Iran-Israel berkecamuk, dunia mulai merasakan imbasnya, yaitu kemungkinan adanya kenaikan harga energi secara drastis imbas…
Ketika ketegangan geopolitik melonjak, misalnya dalam skenario eskalasi AS-Iran, risiko bisnis muncul jauh sebelum gangguan operasional terlihat. Satu narasi viral…
Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian publik kembali tertuju pada dinamika kepemimpinan di tingkat daerah. Berbagai kasus yang melibatkan kepala daerah…
Sebuah Isu sempat viral pada 21 Februari lalu,Terkait dengan Alumni Mahasiswa/Mahasiswi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dwi Sasetyaningtyas dan suaminya…
Akhir-akhir ini istilah SEAblings menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial. Fenomena ini mencuat setelah ketegangan antara netizen Asia Tenggara…