Bapak Michael Kusuma Head Of Investor Relations Sampoerna Agro
“Binokular mempermudah kami dalam memperoleh akses informasi/berita yang up-to-date. Laporan monitoringnya cukup komprehensif dan customizable serta fiturnya sangat berguna seperti news archive searching. Ragam layanan memungkinkan setiap personnel dengan tingkat mobilitas yang cukup tinggi untuk mengakses website/newletters/sms alert”
Bapak Arif Haryanto Corporate Communication Department PT Angkasa Pura I (Persero)
“Binokular adalah sebuah solusi cerdas! Memantau media yang tersebar di 13 daerah di kawasan tengah hingga timur Indonesia dimana bandara Angkasa Pura I berada menjadi mudah dan cepat dengan Binokular. Tingkat akurasi dan relevansi berita yang di-capture patut diacungi jempol. Fasilitas web service Binokular yang lengkap dan user friendly menjadikan pencarian dokumentasi berita menjadi lebih mudah. Binokular juga membantu kami dalam merespon dengan cepat setiap berita negatif yang muncul dengan layanan SMS alert-nya. Salut untuk semua inovasi ini, Binokular!”
Ibu Miranti Hadisusilo Corporate Secretary & Legal Director PT Matahari Department Store Tbk
“Binokular sangat membantu kami dalam melakukan media monitoring, baik untuk berita berkaitan dengan perusahaan, industri dan kompetitor. Informasi up to date itu perlu untuk melakukan analisa pasar dan dapat segera melakukan respon apabila dibutuhkan.”
Bapak Eko Harmonsyah PSHM Bank Indonesia
“Pekerjaan monitoring media menjadi lebih mudah dengan Binokular. Informasi yang diperlukan bisa dicari dengan cepat dan akurat dengan search engine-nya. Tampilan juga cukup user-friendly. Tapi yang paling penting adalah layanan yang responsif dan proaktif dari jajaran Binokular sangat membantu.”
Jakarta — Kebijakan Work from Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat memicu gelombang kritik paling keras sepanjang penerapan 8 (Delapan) Butir Transformasi Budaya Kerja dan Efisiensi Energi. Namun di luar geger media sosial, data menunjukkan publik belum memusuhi kebijakan tersebut. Justru 69 persen warganet masih berada di fase observasi, menggali informasi, mengajukan pertanyaan, dan menimbang dampak.
Dengan total engagement melampaui 7,3 juta interaksi dalam kurun 31 Maret–12 April 2026, diskursus ini bukan sekadar hiruk-pikuk digital, melainkan cermin bahwa publik masih menunggu bukti. Menggunakan alat kerja big data analytics, PT Binokular Media Utama (“Binokular”) melakukan riset percakapan di media sosial tentang sorotan dan distribusi argumen juga percakapan publik terkait topik Penerapan 8 Butir Transformasi Budaya Kerja dan Efisiensi Energi tersebut.
Dalam periode 31 Maret hingga 12 April 2026, dashboard social media listening Socindex, menjaring sebanyak 137.672 percakapan warganet di berbagai platform (X/Twitter, Facebook, Instagram, Youtube, dan Tiktok) dengan total engagement mencapai 7.360.469. Berdasarkan data yang sama, sentimen publik terhadap kebijakan ini didominasi oleh sikap netral, yaitu sebesar 69 persen, sementara sentimen negatif tercatat 17 persen dan positif 14 persen. Dari segi platform, mayoritas warganet membincangkan kebijakan ini di TikTok dan Instagram, dengan jenis percakapan yang paling banyak berupa komentar pada unggahan.
Menariknya, meskipun perbincangan berlangsung sangat masif, sebagian besar warganet masih berada pada tahap mencari informasi, mengajukan pertanyaan, dan membuat pernyataan observatif. Namun, di balik dominasi netral tersebut, isu tentang Work from Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat muncul sebagai topik paling kontroversial dan paling banyak menyedot perhatian publik.
“Perbincangan seputar kebijakan transformasi budaya kerja dan efisiensi energi melonjak tajam pada 1 April 2026, sehari setelah pengumuman resmi pemerintah pada 31 Maret. Lonjakan ini merupakan reaksi langsung warganet terhadap berbagai poin kebijakan, terutama yang berkaitan dengan penghematan energi. Sebelumnya, pada akhir Maret, jagat media sosial sudah diramaikan oleh kecemasan publik terhadap kemungkinan kenaikan harga BBM menyusul ketegangan di Timur Tengah,” kata Manajer Social Media Data Analytics (Socindex) Binokular, Danu Setio Wihananto.
Kekhawatiran tersebut, lanjut Danu, sempat memicu perilaku panic buying di sejumlah daerah. Namun, setelah pemerintah mengumumkan secara resmi bahwa harga BBM tidak dinaikkan pada April 2026, publik merasa lega. “Keputusan menahan harga BBM ini justru menjadi salah satu poin yang paling diapresiasi warganet, meskipun sebagian kecil masih menyuarakan kekhawatiran terhadap kemungkinan penyesuaian harga BBM non-subsidi di kemudian hari,” tandas Danu.
Isu WFH ASN dan Program MBG Paling Mengemuka
Pada bagian lain, Danu memaparkan bahwa selama periode monitoring, terdapat dua isu paling dominan yang dibicarakan warganet yakni kebijakan WFH bagi ASN setiap hari Jumat dan optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Isu WFH ASN mencuri perhatian terbesar. Kebijakan yang ditujukan untuk menghemat energi dengan mengurangi mobilitas dan konsumsi bahan bakar di perkantoran ini menuai pro dan kontra yang tajam. Warganet yang kontra mengkritik bahwa kebijakan tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh ASN sebagai long weekend untuk berlibur, bukan untuk bekerja secara produktif dari rumah. Kekhawatiran yang lebih mendasar adalah turunnya kualitas pelayanan publik, mengingat banyak masyarakat yang masih memerlukan layanan administratif dan teknis pada hari Jumat,” ujar Danu.
Di sisi lain, warganet yang pro menilai WFH langkah penghematan energi. Dengan mengurangi perjalanan dinas dan operasional gedung, konsumsi listrik dan BBM bisa ditekan. Mereka berargumen bahwa selama pelayanan digital berjalan baik dan ASN tetap produktif, WFH justru bisa menjadi model kerja masa depan yang lebih fleksibel dan ramah lingkungan. Meskipun demikian, suara-suara positif ini masih kalah jumlah dibandingkan dengan sentimen negatif dan netral yang lebih dominan.
Isu lain yang tak kalah hangat adalah pemangkasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari enam hari menjadi lima hari dalam sepekan. Warganet menilai bahwa anggaran MBG yang sangat besar seharusnya dapat diefisiensikan lebih lanjut, terutama mengingat sejumlah insiden dan polemik yang sempat terjadi di lapangan. Pemangkasan jumlah hari pemberian MBG dinilai belum cukup memberikan dampak efisiensi yang signifikan. Sentimen negatif terhadap kebijakan ini justru lebih dominan dibandingkan sentimen positif. Banyak warganet yang mempertanyakan mengapa tidak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme distribusi dan menu, daripada sekadar mengurangi frekuensi.
Warganet Apresiasi Pemerintah Tahan Harga BBM
Berbeda dengan isu WFH yang kontroversial, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM pada April 2026 mendapatkan apresiasi luas. Manajer News Data Analytics Binokular (Newstensity) Nicko Mardiansyah menyebut, sebelum pengumuman, media sosial sempat dihebohkan oleh kabar bahwa akan ada penyesuaian harga BBM per 1 April.
“Isu ini menyebabkan kepanikan dan antrean panjang di sejumlah SPBU. Namun, setelah pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa harga BBM subsidi dan non-subsidi tertentu ditahan, warganet berbondong-bondong menyatakan lega dan berterima kasih,” ujar Nicko.
Sentimen positif terhadap kebijakan in tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam periode monitoring, meskipun secara keseluruhan sentimen positif hanya 14 persen. Beberapa warganet masih menyisakan rasa waswas, terutama terhadap kemungkinan kenaikan harga BBM non-subsidi dalam pekan-pekan berikutnya. Mesh demikian, langkah pemerintah menahan harga dinilai sebagai bentuk respons cepat yang menenangkan publik.
Harga Plastik dan Avtur Naik
Selain tiga isu utama di atas, warganet juga menyoroti dampak ekonomi tidak langsung dari kebijakan efisiensi energi. Dua isu turunan yang mencuat adalah kenaikan harga plastik dan kenaikan harga avtur yang berimbas pada tarif tiket pesawat. Kenaikan harga plastik dirasakan langsung oleh pelaku UMKM, yang sebagian besar menggunakan plastik sebagai kemasan makanan dan minuman. Gangguan impor bahan baku nafta akibat krisis global disebut sebagai penyebab utama, dan warganet dari kalangan UMKM menyatakan keberatan karena biaya operasional mereka ikut membengkak.
Sementara itu, kenaikan harga avtur memaksa pemerintah menyesuaikan tarif tiket pesawat di kisaran 9 hingga 13 persen. Sentimen negatif pun bermunculan, terutama dari warganet yang sering menggunakan transportasi udara. Namun, pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai langkah mitigasi disiapkan, antara lain insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP), penyesuaian fuel surcharge, serta pembebasan bea masuk suku cadang pesawat. Langkah-langkah ini berhasil meredam sebagian sentimen negatif dan bahkan memunculkan apresiasi dari warganet yang memahami upaya pemerintah menjaga stabilitas sektor penerbangan.
Kesimpulan: Pola Komunikasi yang Tersebar
Vice President Operation Binokular Big Data Analytics Ridho Marpaung menyebut bahwa hasil Social Network Analysis (SNA) menampilkan pola percakapan yang terfragmentasi ke dalam beberapa klaster besar tanpa adanya satu aktor yang benar-benar dominan. “Klaster utama terbentuk di sekitar akun-akun seperti @Prabowo, @Hasyimmah, @pandji, @Gerindra, dan sejumlah akun arus media berita. Struktur ini menunjukkan bahwa publik menerima informasi dari berbagai sumber dengan framing yang berbeda, lalu memperluas jangkauan percakapan ke klaster lain,” kata Ridho.
Menariknya, lanjut Ridho, akun-akun anonim seperti @lambesahamjja, @99Propaganda, dan @RagilSemar memiliki pola jaringan “bintang” dengan banyak interaksi langsung dari pengguna lain. Hal ini membuktikan bahwa pembentukan opini publik tidak hanya bergantung pada media arus utama, tetapi juga dipengaruhi oleh akun-akun dengan engagement tinggi Sementara itu, akun seperti @Pns_Ababil, @Catchmeupco, @Wolf_Of_Ihsg, dan @Yanuarnugroho membentuk sub-klaster dengan jangkauan terbatas, menunjukkan bahwa meskipun isu tersebar luas, tidak semua percakapan berhasil masuk ke arus utama dan memicu diskusi yang lebih intens.
KESIMPULAN
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa:
1) Publik sebenarnya masih dalam tahap memahami kebijakan 8 Transformasi Budaya Kerja Nasional dan Efisiensi Energi termasuk Kebijakan-Kebijakan lanjutan dari pemerintah. Dominasi sentimen netral sebesar 69 persen mengindikasikan bahwa warganet belum sepenuhnya membentuk opini final; mereka masih mencari informasi, mengajukan pertanyaan, dan melakukan observasi juga evaluasi atas kebijakan-kebijakan pemerintah. Namun, potensi meluasnya sentimen negatif tetap ada, terutama jika isu-isu kontroversial seperti WFH ASN tidak dikomunikasikan dengan baik, dan tidak ditunjukkan dalam praktik nyata kepatuhan-kepatuhan, baik di tingkat pusat maupun daerah-daerah. Bisa diperhatikan bahwa ada sentimen negatif (17%) dan sentimen positif (14%).
2) Percakapan terkait Pelaksanaan Kebijakan 8 Transformasi Budaya Kerja Nasional dan Efisiensi Energi di media sosial mencapai 137.672 percakapan, dengan lonjakan terjadi pasca pengumuman 31 Maret 2026 dan didominasi platform TikTok & Instagram dalam bentuk komentar.
3) WFH ASN menjadi isu paling dominan dan kontroversial, diikuti oleh harga BBM (engagement tertinggi) dan Program MBG, yang menunjukkan fokus publik pada dampak langsung kebijakan.
4) Isu turunan seperti kenaikan harga plastik dan harga avtur/tiket pesawat menandakan kebijakan dikaitkan dengan dampak ekonomi yang lebih luas oleh masyarakat (warganet).
5) Isu harga BBM, meskipun mendapat apresiasi, tetap membutuhkan pemantauan karena kekhawatiran publik terhadap kenaikan di masa depan belum sepenuhnya hilang.
6) Sementara itu, program MBG perlu dikomunikasikan secara lebih transparan mengenai alasan dan perhitungan efisiensi, mengingat banyak warganet yang menilai pemangkasan lima hari belum cukup. Selain itu berkembangnya kabar pengadaan motor listrik oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sempat menjadi pertanyaan besar oleh warganet terkati efisiensi.
REKOMENDASI
Mengomentari berbagai temuan dalam riset ini, Tim Binokular merekomendasikan:
1) Pemerintah perlu memfokuskan komunikasi pada isu dengan volume percakapan tertinggi saat ini, yaitu WFH ASN, Ketersediaan dan Harga BBM (Subsidi dan Non-Subsidi), serta MBG juga kenaikan harga-harga yang muncul saat ini seperti harga plastik dan juga harga avtur yang mengakibatkan kenaikan harga tiket pesawat.
2) Pesan-pesan kebijakan harus disederhanakan, memiliki rasa empati juga simpati, serta menekankan dampak langsung kepada masyarakat dari semua kalangan, karena mayoritas publik masih berada pada tahap memahami kebijakan dan berusaha beradaptasi dengan kebijakan-kebijakan yang disampaikan oleh Pemerintah.
3) Pemerintah perlu memperkuat monitoring dan respon cepat di media sosial, khususnya di TikTok dan Instagram yang banyak diakses oleh kalangan usia 16-45 tahun, untuk mengantisipasi misinformasi dan merespons narasi negatif yang berpotensi berkembang. Keberadaan akun-akun anonim dengan pengaruh tinggi juga harus menjadi perhatian, karena mereka dapat membentuk opini publik di luar kendali arus utama.
4) Pemerintah bisa terus mendorong masyarakat untuk terbiasa mengakses dan membandingkan informasi dari sumber-sumber yang kredibel sebelum membentuk opini, dan bahwa tdak semua informasi yang viral itu akurat.
5) Pemerintah bisa terus menyampaikan kebijakan-kebijakan dan pesan-pesan positif kepada masyarakat, khususnya dalam menyampaikan informasi-informasi yang memberikan kabar baik dan ruang kepada masyarakat untuk terus bertumbuh ternasuk pada kalangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), industri kreatif, petani, nelayan, dan buruh. Kehadiran dan langkah-langkah Pemerintah dalam masyarakat dalam menyikapi situasi global saat ini akan menjadi suasana yang baik dan membuat masyarakat mengetahui dan menyadari bahwa Pemerintah tetap ada bersama-sama masyarakat dalam menghadapi situasi global yang berkembang.
6) Pemerintah bisa merangkul kalangan pakar (akademisi) dan praktisi komunikasi untuk bisa mencari formula komunikasi yang cocok untuk kondisi yang berlangsung saat ini agar bisa menyampaikan pesan-pesan kebijakan-kebijakan pemerintah secara efektif kepada masyarakat, baik pada arus media berita dan juga media sosial.
7) Binokular mengajak masyarakat berpartisipasi secara konstruktif, memberikan tanggapan pada media sosial agar tetap berbasis pada pemahaman yang lengkap dari pemerintah dan juga beerbasis data, dan bukan sekadar reaksi terhadap narasi viral.