Riuh Demo, Ricuh Massa, dan Krisis Representasi
Jakarta mendadak riuh pada 25 Agustus saat aksi masa yang menamakan diri “Revolusi Rakyat Indonesia” memadati halaman gedung DPR/MPR RI….
Riuh suasana Pasar Gamping, DI Yogyakarta sudah mulai berkurang pagi itu. Beberapa los tampak kosong ditinggal pulang para pemiliknya yang sudah berjibaku sejak pukul 01.00 dinihari. Hanya nampak pedagang “kelas pagi” yang baru datang. Terhimpit di antara penjual jeruk peras grosiran dan los ikan segar, berdiri sebuah warung mracangan, toko yang menjual berbagai bumbu dapur dan sembako, masih sigap melayani pembeli yang mayoritas penjual makanan di sekitar area Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Sang pemilik toko cekatan menghitung belanjaan konsumen, sembari menjawab pertanyaan para pembeli. Usai merampungkan transaksi dan menyebut nominal yang harus dibayar pelanggan setianya, alih-alih mengeluarkan uang kertas, pelanggannya justru sibuk memainkan smartphone. Hanya butuh kurang dari satu menit, pembayaran itu selesai. Uniknya, tidak ada adegan perpindahan uang seperti yang lazim dijumpai di pasar-pasar tradisional. Sebaliknya, yang terjadi adalah transaksi tak kasat mata dari rekening pembeli ke rekening pemilik toko berkat fitur Quick Response Indonesian Standard atau QRIS.
Pemanfaatan QRIS tersebar hampir merata di seluruh lini usaha. Mulai dari ritel besar, layanan jasa, tempat kuliner, dan angkutan transportasi. Para pedagang kakilima juga mengadopsi QRIS sebagai bentuk adaptasi preferensi transaksi generasi muda yang lebih senang melakukan transaksi nontunai. QRIS juga menjadi platform transaksi favorit pelancong asing yang sedang berlibur ke Indonesia.
Benar, di tengah muramnya situasi negara ini, warga Indonesia bisa sedikit berbangga pada salah satu produk pembayaran Bank Indonesia. Pasalnya, fitur pembayaran nontunai QRIS menjadi karya anak bangsa yang cukup populer. Tidak hanya di dalam negeri, penggunaan QRIS sudah melebar ke Singapura, Thailand, dan Malaysia. Pada 17 Agustus 2025 sebagai kado kemerdekaan Indonesia, QRIS bisa diimplementasikan di China dan Jepang, dua negara Asia yang cukup ketat dalam mengatur sistem keuangannya.
Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masaki Yasushi bahkan memuji fasilitas pembayaran digital nasional Indonesia dengan menyebut QRIS mungkin lebih maju daripada sistem pembayaran Jepang. “QRIS adalah salah satu alat yang benar-benar terbaik di Indonesia. Jika itu dapat digunakan oleh orang Indonesia di Jepang, akan sangat memudahkan orang Indonesia untuk bepergian atau tinggal di Jepang,” kata Masaki seperti dikutip dari republika.co.id.
Pengakuan serupa juga datang pelancong asal Thailand, Malaysia, dan Singapura yang sudah lebih dulu mengadopsi QRIS. Mereka mengaku takjub dengan kemudahan pembayaran via QRIS karena bisa dilakukan lewat smartphone mereka. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mengamini hal tersebut. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Butet Linda Helena Panjaitan mengatakan QRIS memberikan kemudahan turis asal tiga negara tersebut menggunakan platform mereka sendiri tanpa perlu tukar uang fisik.
Data menunjukkan, penggunaan QRIS oleh pengguna dari tiga negara ASEAN tersebut di Bali mencapai 31.455 transaksi dengan total nilai transaksi mencapai Rp7,1 miliar. Sementara tahun lalu di seluruh Indonesia nilai transaksi pelancong asal Malaysia, Thailand, dan Singapura mencapai 1,17 juta transaksi dengan nominal Rp 288,4 miliar.
Menurut Linda, transaksi QRIS dapat meningkatkan kinerja UMKM termasuk menggenjot omzet penjualan karena dari total 39,3 juta merchant yang terdaftar, 93,16% adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Bagi UMKM, QRIS menawarkan kemudahan transaksi tanpa perlu perangkat mahal atau sistem kasir rumit. Cukup dengan kode QR yang dapat dicetak atau ditampilkan di ponsel, pelaku usaha bisa menerima pembayaran dari berbagai bank dan dompet digital. ASPI mencatat, saat ini ada 56 juta user QRIS dan 38 juta merchant QRIS dengan mayoritas transaksi di bawah Rp 500 ribu.
Masifnya penetrasi QRIS di kalangan masyarakat juga terdorong peningkatan penggunaan smartphone, penetrasi internet yang lebih merata, dan tren preferensi transaksi nontunai terutama di generasi yang lebih muda. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet telah mencapai 80,66 persen terhadap total penduduk, naik tipis dibanding tingkat penetrasi tahun 2024 yang sebesar 79,5 persen.
Berdasarkan survei APJII, maka ada 229 juta jiwa penduduk Indonesia yang sudah terpapar internet. Dilihat dari sisi pulau, tingkat penetrasi internet pada 2025 yang tertinggi ada di Jawa (84,69 persen) diikuti Kalimantan (78,72 persen), Sumatera (77,12 persen), Bali dan Nusa Tenggara (76,86 persen), Sulawesi (71,64 persen), serta Maluku dan Papua (69,26 persen). Temuan ini juga sejalan dengan data dari Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang menampilkan lima provinsi dengan transaksi QRIS tertinggi hingga kuartal 1-2025 ada di Pulau Jawa, yakni Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.
Dari sisi pengguna smartphone yang mendukung ekspansi QRIS, Indonesia berada di peringkat empat dunia dengan 187,7 juta smartphone versi Exploding Topic. Sementara itu, preferensi pembayaran juga bergeser dari tunai ke non tunai. QRIS, salah satu fitur pembayaran non tunai, menunjukkan perkembangan yang signifikan dengan pertumbuhan hingga Juni 2025 sebesar 148,50% secara tahunan (year on year). Sejalan dengan pertumbuhan transaksi nontunai yang tumbuh dari Rp 22,14 triliun pada 2019 menjadi Rp 303,19 triliun di semester 1-2024. Sukses di dalam negeri, Bank Indonesia mengintensifkan adopsi QRIS lintas negara.
Menurut catatan Bank Indonesia, saat ini QRIS bisa digunakan secara cross-border di lima negara. Artinya, warga Indonesia dan kelima negara tersebut bisa saling memanfaatkan QRIS dan partner pembayaran lokal mereka di masing-masing negara. Malaysia misalnya, menjadi negara pertama yang mengadopsi kerjasama QRIS cross border. Di sini, warga Indonesia dan Malaysia dapat melakukan pembayaran retail dengan menggunakan QRIS dan kode QR pembayaran Malaysia, yaitu DuitNow.
Kemudian Thailand yang meresmikan implementasi kerja sama pembayaran berbasis kode QR lintas negara, yaitu QRIS dan Thai QR Codes. Lalu pada 2023 giliran Singapura dengan dimulainya uji coba interkoneksi pembayaran antara Indonesia dengan Singapura menggunakan kode QR. Termutakhir, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, adalah China dan Jepang yang mulai mengimplementasikan QRIS pada 17 Agustus 2025.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan empat penyedia layanan switching nasional terlibat dalam implementasi QRIS di China. Keempat penyedia layanan switching itu terdiri dari PT Alto Network (Alto), PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa), PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), dan PT Rintis Sejahtera (Rintis). Keempat pelaku industri itu telah menjalin kesepakatan dengan Unionpay International untuk pengembangan sistem dan uji coba sandbox di China.
Di luar lima negara tersebut, BI sedang menegosiasikan implementasi QRIS di India melalui National Payments Corporation of India (NPCI) yang masih memasuki tahap pembahasan teknis. Untuk QRIS lintas negara di Korea Selatan, Filianingsih menuturkan bahwa masih dalam proses kajian dan finalisasi di level Industri antara ASPI dengan Korea Financial Telecommunications and Clearings Institute. Kedua negara ini tercatat sebagai penyumbang turis asing yang cukup dominan, India di peringkat kelima sebagai penyumbang turis terbanyak, diikuti Korsel di peringkat ketujuh.
Terakhir, adalah Arab Saudi sebagai tujuan implementasi QRIS. Secara historis, Indonesia menjadi negara penyumbang haji terbesar di Arab Saudi dengan 200 ribu jamaah. Jika kerjasama QRIS berhasil diselesaikan, maka transaksi keuangan jamaah haji akan lebih mudah dan efisien. BI telah melakukan diskusi dengan Otoritas Moneter Arab Saudi. Langkah ini beriringan dengan upaya Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi yang mendorong program penggunaaan sistem pembayaran digital bagi jemaan haji dan umrah, khususnya untuk negara dengan jumlah jemaah besar seperti Indonesia.
Jika melihat tren kerjasama bilateral yang dilakukan BI, Indonesia menyasar negara-negara penyumbang wisatawan asing dan negara yang menjadi tujuan favorit para pekerja migran Indonesia. China misalnya, pada 2024 menjadi penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia dengan 1,19 juta wisatawan atau melonjak 52 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan Jepang, menjadi salah satu tujuan favorit pekerja migran asal Indonesia.
Meski terkesan sempurna, QRIS menyimpan beberapa kelemahan yang membuatnya mudah disalahgunakan. Kasus yang paling banyak muncul adalah QRIS palsu. QRIS palsu adalah kode QR ilegal yang meniru identitas merchant sah dan dipasang di lokasi strategis untuk menipu konsumen berkat kemudahan mendaftarkan QRIS. Tujuannya adalah agar pembayaran masuk ke rekening pelaku, bukan ke merchant yang sebenarnya.
Salah satu kasus fenomenal adalah pemasangan QRIS palsu di 38 masjid di Jakarta pada tahun 2023. Kasus ini menyita perhatian, termasuk dari ekonom Indef, Nailul Huda. Huda, dalam wawancara dengan BBC Indonesia menyebut kasus QRIS palsu ini menandakan “ada yang bolong” dan “perlu disempurnakan” dalam pengembangan QRIS.
Pelakunya adalah M. Iman Mahlil, pria asal Tangerang yang berlatarbelakang eks karyawan bank. Literasi keuangannya tentu memadai sehingga cukup berani menempelkan QRIS ke 38 titik masjid di Jakarta dan Tangerang. Saat beraksi, Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Auliansyah Lubis mengatakan bahwa Iman mendaftarkan tiga rekening pribadinya melalui aplikasi Youtap dan Pulsabayar. QRIS itu dia buat atas nama Restorasi Masjid.
Iman memanfaatkan kemudahan pembuatan QRIS merchant yang tertaut dengan rekening pribadinya. Hasil pemindaian menunjukkan kode tersebut terafiliasi dengan LinkAja dan Bank Nobu. Jadi dalam hal ini, yang dilakukan oleh Iman adalah mendaftarkan QRIS atas nama “Restorasi Masjid” dan menyalahgunakannya seolah itu adalah QRIS yang digunakan oleh pengurus masjid untuk menerima infaq dari jemaah. Dalam aksi ini, Iman meraup Rp 13 juta.
Praktik serupa banyak terjadi di beberapa tempat. Sebuah gerai gelato di Jakarta Barat misalnya, kehilangan uang Rp 45 juta karena karyawan memberikan QRIS pribadinya ke konsumen saat akan melakukan pembayaran. Akibatnya, uang transaksi tidak masuk ke rekening merchant. Fenomena QRIS palsu, sampai saat ini menjadi masalah terbesar bagi para pemangku kebijakan.
QRIS tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu dari terbatasnya produk lokal yang bisa dibanggakan. Warganet bahkan mengapresiasi implementasi QRIS di Jepang via media sosial. Alat pemantau media sosial Socindex, mencatat engagament dengan kata kunci QRIS pada 17 Agustus 2025 mengalami lonjakan, bertepatan dengan peresmian QRIS di Jepang dan China.
Lewat Socindex, terlihat terjadi lonjakan interaksi di X (dulunya Twitter) dan Instagram pada 17 Agustus 2025. Interaksi di Instagram mencapai 419.195 sedangkan di X mencapai 39.454. Dua faktor utama pendorong lonjakan interaksi adalah, pertama datang dari promo berbagai jenama di tanggal tersebut dengan memanfaatkan pembayaran QRIS, serta kedua adalah rasa syukur warganet dengan diberlakukannya QRIS di China dan terutama Jepang.
Faktor kedua bahkan lebih dominan dalam membentuk lonjakan volume. Analisis konten terpopuler di kedua platform mengonfirmasi temuan itu. Di Instagram, unggahan akun media pop culture Folkative yang berisi pengumuman implementasi QRIS di Jepang menjadi konten yang paling banyak menerima likes. Per 27 Agustus, konten Folkative mendapat 398 ribu likes dan dihujani pujian warganet di kolom komentarnya.
Setali tiga uang, cuitan akun fanbase @IndoPopBase tentang implementasi QRIS di Jepang juga menjadi konten yang paling banyak mendapat likes selama Agustus di X. Cuitan ini mendapat 30 ribu likes dan sama-sama mendapat apresiasi positif dari warganet.
Secara total, konten yang memuat QRIS di X selama 1-27 Agustus 2025 sebanyak 27,2 ribu unggahan, mendapat 109,5 likes, dan berpotensi mampir ke 145 juta akun (buzz reach). Sedangkan di Instagram, ditemukan 1.077 konten terkait QRIS dan mendapat 1,09 juta likes selama periode yang sama.
Banjir publikasi juga terjadi di media massa. Newstensity, alat monitor media massa milik PT Nestara Teknologi Teradata mencatat ditemukan 20.148 berita yang memuat kata kunci QRIS selama 1-27 Agustus 2025. Dari keseluruhan berita, informasi implementasi QRIS di Jepang mengokupansi 18,49 persen total pemberitaan atau sebanyak 3.726. Sementara adopsi QRIS di China sebanyak 7,6 persen atau mencapai 1.533 berita.
Implementasi QRIS di kedua negara Asia Timur kompak didominasi sentimen positif. Media, pelaku industri keuangan, dan perwakilan pemerintah mengapresiasi langkah tersebut sebagai upaya positif untuk mempermudah transaksi keuangan antara kedua warga negara. Indonesia juga berpotensi mendapat penghasilan tambahan dari aktivitas ini.
QRIS menjadi salah satu produk lokal yang banyak dibanggakan masyarakat Indonesia. Ruang pertumbuhannya masih lebar, mengingat negara-negara tujuan PMI Indonesia seperti Hong Kong, Taiwan, dan Timur Tengah belum menjadi mitra implementasi. Di sisi lain, kemudahan pendaftaran merchant patut diperhatikan karena menjadi sarana pelaku fraud. Keberhasilan QRIS menunjukkan arah digitalisasi sistem pembayaran di Indonesia sudah berjalan ke arah yang benar.
Penulis: Khoirul Rifai (Jangkara), Ilustrasi: Aan K. Riyadi
Jakarta mendadak riuh pada 25 Agustus saat aksi masa yang menamakan diri “Revolusi Rakyat Indonesia” memadati halaman gedung DPR/MPR RI….
Program Kabinet Merah Putih tidak pernah gagal untuk menarik perhatian masyarakat. Salah satunya proyek penulisan ulang sejarah yang digagas oleh…
Tanggal 17 Agustus yang merupakan Hari Ulang Tahun RI menjadi hari yang menggembirakan bagi seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali para…
Awal Agustus 2025 menjadi bulan yang panas di Kabupaten Pati. Bukan karena suhu udara, tapi karena tensi politik yang meledak…
Film animasi Merah Putih: One for All diluncurkan pada bulan Agustus 2025, bersamaan dengan perayaan HUT ke-80 Indonesia dengan harapan…
Perdebatan mengenai kehadiran sound horeg atau sound karnaval muncul di tengah masyarakat, terutama setelah adanya fatwa haram terhadap sound horeg…
Di era digital, jutaan artikel, video, unggahan media sosial dan siaran berita terbit setiap hari. Organisasi, pemerintah dan perusahaan tidak…
Masalah keamanan data pribadi kembali menjadi sorotan di Tanah Air. Setelah masalah kebocoran data, kali ini sorotan publik mengarah pada…
Dalam beberapa dekade terakhir, kesadaran akan pentingnya keberlanjutan telah mengubah cara perusahaan dan investor melihat kinerja bisnis. Lingkungan hidup yang…
Di siang hari yang cukup terik pada Jumat, 18 Juli 2025, Thomas Trikasih Lembong atau akrab disapa Tom Lembong memasuki…