Babak Baru Komedi ala Pandji
Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan hak konstitusional yang melekat dan dilindungi oleh undang-undang. Corong ekspresi kekecewaan warga negara kepada institusi dan pejabat…
Siapa sangka sebuah candaan sederhana bisa berujung jadi drama di media sosial? Semua bermula dari unggahan yang membandingkan wajah RM BTS dengan presenter senior Indy Barends. Perbandingan ini bagi sebagian orang mungkin hanya terlihat lucu, tapi bagi penggemar berat BTS atau yang biasa disebut sebagai ARMY, itu dianggap melecehkan sang idola. Dari sana, api kecil di media sosial berubah jadi kebakaran hebat yang menyeret nama brand skincare lokal Somethinc.

Somethinc awalnya mungkin hanya ingin ikut nimbrung, menulis komentar “UDAAAH BANG…” di salah satu postingan pemengaruh Gilang Bhaskara di twitter (X) dengan cuitan “Indy Barends” yang saat itu sedang viral. Akan tetapi dunia digital, seperti biasa, tidak kenal konteks dan tidak panjang sabar.
ARMY menganggap komentar dari brand kecantikan lokal itu sebagai bentuk dukungan terhadap lelucon yang menyinggung RM dan dalam hitungan jam, akun Somethinc langsung dibanjiri komentar. Sayangnya, aksi ini tak berhenti di Twitter saja. Serangan juga merambah ke sesi live shopping di Shopee, live TikTok, bahkan host yang tidak terlibat pun ikut kena perundungan dan komentar kasar netizen khususnya ARMY.
Banyak warganet menilai tindakan itu sudah melampaui batas, bukan lagi bentuk pembelaan terhadap idola, melainkan bentuk perundungan terhadap pekerja yang sebetulnya hanya menjalankan tugasnya.
Fenomena ini mungkin terdengar sepele di permukaan, tapi ada hal menarik yang bisa diamati: betapa tipisnya batas antara idolizing dan fanatisme. Kecintaan fans terhadap idolanya seringkali begitu besar hingga berubah menjadi keinginan untuk “mengontrol” bagaimana orang lain berbicara, bercanda, bahkan bereaksi terhadap sang idola. Begitu ada opini maupun sudut pandang yang melenceng sedikit dari ekspektasi itu; boom!; internet pun menjadi medan perang bak gladiator.
Situasi makin ramai ketika akun Prasetya @IamPrasPrasetja, influencer dengan pengikut setia sebanyak 12,4 ribu pengikut dan gaya bicara blak-blakan ikut menyuarakan pendapat yang cukup keras dan memberikan pembelaan terhadap Somethinc dan juga pegawai yang menjadi korban perundungan ARMY.
Dengan lantang ia mengungkapkan opininya di thread cuitannya tersebut.
“I stand with @Somethinc4u for doing business like this. Kalau kalian followersku ada ARMY Indonesia yang anti dan masih mendukung gerakan harassment, bullying, dan tindakan misoginis kpd host Somethinc, tolong unfollow aku. I don’t care about y’all community and BTS,” tulis Prasetja.

Selain menjadi influencer, Prasetja diketahui merupakan pegawai di PT Trisula Ungu Indonesia, sebuah perusahaan sosial yang bergerak di bidang psikologi terapan, riset, dan pemberdayaan masyarakat. Sayangnya, cuitan Prasetja tersebut bak pedang bermata dua. Alih-alih meredakan situasi, pembelaan Prasetja justru memancing amarah oknum ARMY lain. Ia mulai diserang balik di media sosial karena dianggap menyudutkan fans BTS.

Menurutnya, ketika seseorang tidak mampu membedakan antara kritik dan penghinaan lalu membalasnya dengan serangan pribadi atau fitnah, itu menunjukkan kurangnya psychological mindedness, atau yang dikenal sebagai kemampuan untuk memahami pikiran dan perilaku diri sendiri secara rasional.
Ia juga menambahkan jika para fans kerap memproyeksikan kebencian atau pikiran negatif mereka kepada pihak lain. Lanjutnya, secara objektif ia menjelaskan jika admin Somethinc tidak melakukan penghinaan terhadap RM tapi mereka tetap melakukan serangan dan perundungan ke banyak pihak.
Lucunya, setelah pernyataan Prasetja yang dianggap merendahkan ARMY mendapatkan respons yang luar biasa di media sosial, situasi pun berubah arah dan semakin melebar. Fans BTS tak lagi hanya mempersoalkan komentar Somethinc, tapi kini mengalihkan amarah mereka pada Prasetja dan tempatnya bekerja, PT Trisula Ungu Indonesia. Mereka menuntut perusahaan tersebut mengambil tindakan tegas, bahkan sebagian menyerukan boikot dan mengirimkan laporan massal ke berbagai kanal resmi perusahaan.
Bagi sebagian ARMY, langkah itu dianggap bentuk tanggung jawab fans, bahwa seseorang yang melempar ujaran merendahkan publik layak mendapat konsekuensi profesional. Namun kebanyakan orang melihatnya sebagai bentuk overreaction atau tindakan fanatisme toksik yang menyerupai serangan sistemik. Di titik ini, pembelaan terhadap idola berubah menjadi perburuan moral yang tidak lagi proporsional.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kekuatan kolektif fandom bisa bergeser dari solidaritas menjadi tekanan sosial.
Tidak tinggal diam, usai mendapatkan tuntutan dari pihak ARMY, PT Trisula Ungu Indonesia dengan cepat memberikan tanggapannya melalui press release yang juga diunggah di akun resmi twitter @TrisulaUnguID.

Dalam pernyataannya, perusahaan menyampaikan bahwa mereka telah melakukan verifikasi internal secara profesional, cermat, dan menyeluruh atas aduan yang masuk. Hasilnya, PT Trisula Ungu Indonesia mengungkapkan jika tidak ditemukan bukti yang menunjukkan adanya pelanggaran etik atau tindakan manipulatif sebagaimana dituduhkan oleh pelapor terhadap pegawainya, Prasetja.
Lebih jauh, mereka menegaskan sejumlah poin penting:
Dengan kata lain, bisa dipastikan jika PT Trisula Ungu Indonesia memilih untuk mendukung karyawannya dalam polemik ini, alih-alih langsung memenuhi tuntutan dari komunitas ARMY untuk memberikan sanksi. Hal ini mendapat reaksi positif dari sebagian besar netizen.
Di tengah riuhnya drama ini di media sosial, brand kecantikan lokal ini diam-diam merilis koleksi terbarunya yang bertajuk “Kiss My Ace.” Koleksi ini berfokus pada produk bibir, mulai dari lip balm hingga lip tint, dengan tagline yang terdengar playful sekaligus percaya diri: “Ace your lip game”. Dalam materi promosinya, Somethinc menampilkan warna-warna dengan shade ungu yang bold lengkap dengan pesan yang mengajak pengguna tampil lebih berani dan autentik.
Lewat desain dan penamaannya, Somethinc mencoba menampilkan citra edgy dan youthful, gaya yang selama ini jadi kekuatan mereka di pasar kosmetik lokal. Nama “Kiss My Ace” sendiri seolah mengandung dua lapis makna: selain merujuk pada “kiss” sebagai simbol bibir, kata “ace” menggambarkan keunggulan dan rasa percaya diri.
Dari sisi branding, koleksi ini terasa sangat cocok dengan audiens muda yang aktif di media sosial. Warna, tone, dan gaya bahasanya mencerminkan persona Somethinc yang berani tampil beda dan dekat dengan kultur digital. Namun, waktu peluncurannya bertepatan dengan masa krisis reputasi akibat insiden komentar admin mereka di media sosial, membuat langkah ini terasa seperti ujian tersendiri bagi brand.
“Kiss My Ace” bisa dibaca sebagai simbol comeback dan upaya Somethinc untuk mengalihkan perhatian publik ke produk dan inovasi terbaru mereka. Akan tetapi di lain sisi, peluncuran di tengah sorotan publik justru menimbulkan pertanyaan: apakah ini strategi damage control atau sekadar kebetulan.
Kasus ini menjadi pengingat penting tentang betapa tipisnya batas antara cinta dan fanatisme. Mengagumi idola tentu hal yang wajar karena itu merupakan bentuk apresiasi atas karya dan inspirasi yang mereka berikan. Tapi ketika rasa kagum itu berubah menjadi dorongan untuk menyerang, menghina, atau “menghukum” orang lain atas nama pembelaan, maka ada sesuatu yang sudah bergeser.
Fanatisme membuat seseorang lupa bahwa membela idola seharusnya tidak berarti menjatuhkan orang lain. Di titik ini, dukungan bukan lagi tentang cinta, tapi tentang ego, tentang siapa yang paling “benar” mencintai idolanya. Dan ironisnya, dalam upaya menjaga citra sang idola, justru para fans sendirilah yang sering kali merusaknya di mata publik.
Isu terkait fanatisme ARMY ini sangat panas dan gaduh di media sosial khususnya Twitter (X). dinamika ledakan interaksi terjadi sangat cepat dalam waktu singkat.

Dibantu dengan alat big data Socindex, dengan memasukkan kata kunci “ARMY”, “Somethinc” dan “BTS” dalam periode 5 – 12 November 2025 ditemukan kurang lebih sebanyak 1.759 perbincangan terkait topik ini. Grafik engagement menunjukkan lonjakan signifikan hingga menembus 501 ribu interaksi yang menandakan bahwa publik bukan hanya membicarakan isu ini, tetapi juga aktif me-reply, me-retweet, dan memberi reaksi emosional terhadap setiap konten terkait isu ini.
Sedangkan audiens yang mencapai kurang lebih 1,3 juta akun ini menandakan bahwa jangkauan isu ini bukan hanya terbatas pada lingkaran fandom, tapi sudah melebar ke audiens umum yang mungkin awalnya tidak mengikuti drama tersebut. Tingginya angka ini memperlihatkan fenomena khas platform X yakni satu konflik bisa keluar dan menjadi tontonan publik luas.
Melihat total buzz reach yang mencapai 61,1 juta dan interaction yang menyentuh 26,1 juta, menunjukkan bahwa isu ini memiliki impact yang tinggi di tengah masyarakat. Dengan 1.1K author dan 1.8K post made, dapat dibaca bahwa percakapan viral ini bukan didorong oleh satu pihak saja, melainkan oleh ratusan akun X yang memicu percikan awal lalu disebarkan ribuan kali lipat melalui retweet dan reaksi berantai.

Lonjakan percakapan di linimasa X yang cukup signifikan dapat dengan jelas terlihat di grafik di atas. Grafik tersebut menggambarkan bagaimana isu Somethinc dan ARMY yang juga menyeret nama Indy Barends berubah dari percikan kecil menjadi gelombang besar dalam hitungan jam.
Puncak tertingginya muncul ketika ARMY mulai mengonsolidasikan narasi, membuat utas, membagikan bukti, hingga mengajukan seruan boikot bagi Somethinc dan juga tuntutan terhadap PT Trisula Ungu Indonesia, tempat Prasetja bekerja. Pada puncak ini, linimasa berubah menjadi ruang dengan intensitas percakapan yang padat dan bisa dilihat dari ribuan reply, retweet, dan kutipan bersahutan.
Setelah mencapai puncaknya, grafik memperlihatkan penurunan secara gradual ketika klarifikasi mulai keluar dari pihak Somethinc, tanggapan dari PT Trisula Ungu Indonesia, dan dari warganet yang menyuarakan pembelaan terhadap Somethinc, para hosts, Prasetja, dan PT Trisula Ungu Indonesia.
Akan tetapi, lonjakan grafik ini tidak hanya menggambarkan betapa cepatnya isu bergerak, tetapi juga bagaimana fanatisme atau fandom culture dan brand reputation bisa bertabrakan dan menciptakan gelombang besar hanya dalam satu hari.

Melihat dari grafik sentimen di atas, terlihat pola yang jelas mengenai bagaimana publik merespons isu ini. Sentimen negatif menjadi yang paling dominan sepanjang periode 5–12 November. Kurvanya naik stabil sejak awal munculnya isu yang bisa menggambarkan ledakan kemarahan netizen, kecaman, serta seruan boikot yang berasal dari ARMY maupun akun lain yang menilai Somethinc bersalah. Sentimen negatif di sini juga menandakan kritik yang dilontarkan kepada ARMY atas fanatisme dan juga rundungan yang disebarkan ke berbagai pihak.
Hal ini sejalan dengan diagram emosi yang didominasi oleh perasaan marah dan cuitan bernada antisipasi seperti terlihat di bawah.

Di sisi lain, sentimen positif terlihat sejalan dengan cutian yang bersentimen negatif. Sentimen ini muncul dari pengguna yang memberikan pembelaan terhadap Somethinc, tindakan Prasetja melalui cuitannya, serta pembelaan terhadap PT Trisula Ungu Indonesia. Meski tidak setinggi sentimen negatif, puncaknya justru terjadi pada hari yang sama dengan puncak percakapan. Hal ini membuktikan bahwa narasi pembelaan cukup kuat dan sempat menjadi kontra-arus di tengah kritik.

Beberapa cuitan dari netizen tersebut merupakan bentuk narasi yang memperlihatkan bagaimana sebagian percakapan berubah menjadi personal dan agresif, sebuah pola yang konsisten dengan lonjakan sentimen negatif yang mendominasi linimasa.

Walau ramau sekali diperbincangkan di media sosial Twitter (X), pemberitaan terkait isu ini di media massa tidak terlalu signifikan. Di media sosial, percakapan didorong oleh dinamika komunitas, terutama fandom seperti ARMY yang memiliki basis besar, solid, dan sangat aktif. Ketika terjadi gesekan kecil saja, responsnya dapat bereskalasi cepat karena viral, solidaritas internal, dan pola saling membela yang memicu banjir unggahan, utas, dan opini. Emosi yang kuat, baik kemarahan, kekecewaan, maupun pembelaan, beredar cepat dan memperbesar persepsi bahwa isu tersebut “besar”, padahal sumbernya bisa sangat sederhana.
Sebaliknya, media massa bekerja dengan logika pemberitaan yang lebih terkurasi. Konflik antara komunitas fandom dan brand kecantikan sering dilihat sebagai isu berbasis persepsi dan dinamika internal media sosial, sehingga tidak selalu dianggap cukup signifikan untuk dikembangkan menjadi liputan besar. Akibatnya, meski linimasa X bisa menjadi sangat meledak – ledak, media massa memilih hanya meliputnya secara sederhana dan cenderung objektif. Hal inilah yang menciptakan kesenjangan “meledak” di media sosial, tetapi “senyap” di pemberitaan resmi.

Menggunakan alat big data media monitoring, Newstensity merekam narasi terkait panasnya topik fanatisme ARMY dan rundungan terhadap berbagai pihak termasuk Somethinc dan Prasetja dalam periode 5 – 12 November 2025 berhasil menyaring pemberitaan kurang lebih sebanyak 86 artikel di media massa.
Linimasa pemberitaan menunjukkan bahwa isu ini mulai muncul di media massa sejak 5 November saat obrolan mulai memanas di media sosial Twitter (X), meski awalnya hanya memunculkan pemberitaan bernada positif dengan intensitas rendah. Situasi masih relatif tenang hingga 7 November, ketika pemberitaan positif sempat naik, menandakan bahwa media mulai menyoroti topik ini dari sudut pandang informatif tanpa konflik yang berarti. Namun, pada 8–9 November, pemberitaan bernada negatif mulai muncul, meski masih dalam jumlah kecil, indikasi bahwa percikan awal kontroversi mulai ditangkap oleh media.
Memasuki 10 November, isu ini memanas tajam: pemberitaan negatif melonjak signifikan, mencapai puncak tertinggi di seluruh periode, menandakan bahwa konflik antara ARMY dan Somethinc mulai melebar dan menjadi sorotan utama media. Beberapa pemberitaan bersentimen negatif berfokus pada tuntutan yang disampaikan oleh pihak ARMY kepada PT Trisula Ungu Indonesia terkait statement yang diungkapkan oleh Prasetja pada akunnya.
Di lain sisi, dalam waktu yang sama, pemberitaan positif juga ikut meningkat yang didominasi oleh tanggapan dari PT Trisula Ungu Indonesia dan pembelaan yang disampaikan oleh Prasetja.

Kondisi ini menunjukkan adanya tarik-menarik di ruang media, di mana pemberitaan negatif dan positif seperti terlihat pada diagram di atas berjalan hampir seimbang. Hal ini tercermin pada 11–12 November yang intensitasnya mulai mereda. Dominasi dua sentimen ini menunjukkan bahwa isu ARMY dan Somethinc tetap hangat dibahas, namun perlahan bergerak menuju fase klarifikasi dan penyusunan narasi penutup.
Isu yang memanas antara ARMY dan Somethinc ini kembali memperlihatkan sisi lain dari budaya fandom: kekuatan besar yang, ketika tidak terkendali, dapat berubah menjadi arus yang merugikan banyak pihak. Di media sosial, fanatisme sering kali membuat batas antara membela idola dan menyerang orang lain menjadi kabur. Reaksi cepat, solidaritas impulsif, dan dorongan untuk “melindungi” seorang idola sendiri dapat menciptakan suasana yang bising dan sering kali menutup ruang dialog yang sehat. Dalam kondisi ini, bukan hanya brand atau individu yang bisa terdampak, tetapi juga anggota fandom itu sendiri, yang terseret dalam tekanan kolektif untuk ikut bersuara, ikut marah, atau ikut memperbesar konflik.
Fanatisme yang terlalu berlebihan juga dapat menciptakan lingkungan toksik yang merugikan publik luas. Pada titik ini, muncul pertanyaan mendasar: kapan dukungan berubah menjadi tekanan, dan kapan kecintaan berubah menjadi tindakan yang menyakiti? Di tengah budaya fandom yang makin kuat, isu ini menjadi pengingat bahwa batas paling penting bukan pada seberapa besar kita mencintai idola, melainkan bagaimana kita memastikan rasa kagum ini tidak berlebihan dan tidak merugikan banyak pihak.
Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan hak konstitusional yang melekat dan dilindungi oleh undang-undang. Corong ekspresi kekecewaan warga negara kepada institusi dan pejabat…
Januari 2026, jagat maya dihebohkan dengan fenomena viralnya buku berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth” karya aktris Aurelie Moeremans. Buku ini…
Pemerintah mulai membuka arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian….
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi, Informasi, dan Digital (Komdigi) resmi memblokir penggunaan Grok di platform X (dulunya Twitter) untuk sementara…
Beberapa tahun lalu, mobil listrik seperti sebuah cerita masa depan yang masih sangat jauh. Mobil listrik saat itu dipandang mahal,…
Bencana hidrometeorologi menghantam tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Siklon Tropis Senyar yang berputar di…
Tingginya curah hujan sepanjang akhir November 2025 telah menyebabkan banjir bandang yang menenggelamkan sebagian wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra…
Jika kita perhatikan terkait keputusan orang hari ini, mau beli apa, percaya isu apa, ikut tren apa, sering dipicu satu…
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan sikap tanpa kompromi pemerintah terhadap impor ilegal pakaian bekas yang dinilai merugikan negara. Ia…
Sebulan terakhir, para elite politik, ekonom, dan masyarakat Indonesia dikejutkan dengan pernyataan dari Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa yang…