SPPG ke PPPK: Dinamika Program-Based Staffing dalam Reformasi ASN
Keputusan pemerintah mengangkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang efektif berlaku mulai 1…
Perkembangan dunia marketing dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang sangat signifikan, terutama sejak digital marketing menjadi strategi utama yang digunakan oleh berbagai brand dan perusahaan. Jika sebelumnya promosi lebih banyak mengandalkan iklan konvensional yang bersifat satu arah, kini pendekatan pemasaran bergeser menjadi lebih interaktif, partisipatif, dan berfokus pada pengalaman audiens. Media sosial, platform video pendek, serta kemudahan akses informasi membuat konsumen semakin kritis terhadap pesan iklan, sehingga brand dituntut untuk menghadirkan konten yang tidak hanya menjual, tetapi juga terasa relevan, jujur, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, muncul tren marketing yang semakin banyak digunakan, yaitu User Generated Content atau yang lebih dikenal dengan sebutan UGC. Berbagai riset pemasaran global menunjukkan bahwa konsumen cenderung lebih mempercayai konten yang dibuat oleh sesama pengguna dibandingkan pesan promosi langsung dari brand. Laporan Nielsen misalnya, menyebutkan bahwa rekomendasi berbasis pengalaman pengguna dinilai lebih kredibel dibandingkan iklan konvensional, sehingga UGC memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan audiens di era digital.
Tren ini berkembang seiring dengan meningkatnya kepercayaan publik terhadap opini dan pengalaman sesama pengguna dibandingkan dengan klaim sepihak dari brand. Dalam ekosistem digital saat ini, konsumen cenderung mencari validasi melalui review, testimoni, atau pengalaman nyata orang lain sebelum memutuskan untuk membeli atau menggunakan suatu produk maupun layanan.
UGC atau User Generated Content merupakan konten yang dibuat oleh pengguna, konsumen, atau audiens secara langsung, bukan oleh brand atau perusahaan. Bentuk UGC sangat beragam, mulai dari unggahan foto, video review, unboxing produk, testimoni penggunaan, komentar di media sosial, hingga cerita pengalaman pribadi yang dibagikan secara sukarela. Konten semacam ini dinilai lebih autentik karena lahir dari pengalaman nyata, bukan dari proses produksi iklan yang terstruktur dan terencana.
Sebagai contoh, ketika seseorang mengunggah video review skincare di TikTok berdasarkan pengalaman pribadinya, atau membagikan foto makanan dari sebuah kafe di Instagram Story, konten tersebut sudah termasuk UGC. Meski terlihat sederhana, justru kesan apa adanya inilah yang membuat UGC memiliki daya tarik kuat dan mudah dipercaya oleh audiens lain.
Alasan utama mengapa UGC menjadi tren dalam dunia marketing adalah tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dari konsumen. American Marketing Association dan Hootsuite juga mencatat bahwa konten berbasis UGC cenderung memiliki engagement yang lebih tinggi karena dinilai autentik, relevan, dan tidak terasa seperti iklan. Hal ini membuat audiens lebih nyaman dalam menerima pesan yang disampaikan. Berbagai studi dan praktik pemasaran menunjukkan bahwa rekomendasi dari sesama pengguna sering kali dianggap lebih jujur dan meyakinkan dibandingkan pesan promosi dari brand. Selain itu, UGC juga dinilai lebih relatable karena menggunakan sudut pandang konsumen biasa dengan gaya bahasa yang dekat dan tidak kaku.
Dari sisi perusahaan, UGC juga memberikan keuntungan dari segi efisiensi biaya dan engagement. Brand tidak selalu harus memproduksi konten dengan biaya besar, karena konten dari pengguna dapat dimanfaatkan kembali sebagai materi promosi. Di sisi lain, keterlibatan audiens juga meningkat karena mereka merasa dilibatkan dan diapresiasi oleh brand.
Sejumlah brand besar maupun lokal telah lebih dulu memanfaatkan UGC sebagai bagian dari strategi marketing mereka. Brand global seperti GoPro dikenal konsisten menggunakan konten video hasil rekaman penggunanya sebagai materi promosi utama. Di industri kecantikan, banyak brand skincare yang aktif membagikan ulang review konsumen di media sosial untuk membangun kepercayaan calon pembeli. Sementara itu, di sektor kuliner dan gaya hidup, konten pelanggan sering dijadikan etalase digital untuk menunjukkan pengalaman nyata konsumen.
Untuk menghasilkan UGC, brand dapat melakukan berbagai cara, seperti membuat kampanye hashtag khusus, mengadakan challenge atau kompetisi di media sosial, hingga secara aktif memberikan apresiasi dengan me-repost konten pengguna. Selain itu, kolaborasi dengan micro creator juga menjadi strategi yang cukup efektif karena mereka memiliki kedekatan yang kuat dengan audiensnya.
Tren UGC diperkirakan akan terus berkembang dan semakin relevan dalam dunia marketing. Studi perilaku konsumen dari Think With Google menunjukkan bahwa generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, lebih tertarik pada konten yang menampilkan pengalaman nyata dibandingkan konten promosi yang terlalu terkonsep. Kondisi ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis UGC akan semakin dibutuhkan di tengah persaingan konten digital yang semakin padat. Di tengah banjir iklan dan konten promosi, audiens justru semakin menghargai cerita yang jujur dan pengalaman nyata. Oleh karena itu, perusahaan tidak hanya dituntut untuk mengumpulkan konten dari pengguna, tetapi juga membangun hubungan dan komunitas yang kuat dengan audiensnya. Perusahaan sebaiknya mulai memandang UGC bukan sekadar sebagai alat promosi, melainkan sebagai sarana membangun kepercayaan jangka panjang. Dengan menciptakan ruang bagi konsumen untuk berbagi cerita dan pengalaman, brand dapat menghadirkan komunikasi yang lebih manusiawi. Pada akhirnya, UGC bukan tentang seberapa sering brand berbicara, tetapi seberapa banyak orang yang dengan sukarela mau bercerita tentang brand tersebut.
Keputusan pemerintah mengangkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang efektif berlaku mulai 1…
Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan hak konstitusional yang melekat dan dilindungi oleh undang-undang. Corong ekspresi kekecewaan warga negara kepada institusi dan pejabat…
Januari 2026, jagat maya dihebohkan dengan fenomena viralnya buku berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth” karya aktris Aurelie Moeremans. Buku ini…
Pemerintah mulai membuka arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian….
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi, Informasi, dan Digital (Komdigi) resmi memblokir penggunaan Grok di platform X (dulunya Twitter) untuk sementara…
Beberapa tahun lalu, mobil listrik seperti sebuah cerita masa depan yang masih sangat jauh. Mobil listrik saat itu dipandang mahal,…
Bencana hidrometeorologi menghantam tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Siklon Tropis Senyar yang berputar di…
Tingginya curah hujan sepanjang akhir November 2025 telah menyebabkan banjir bandang yang menenggelamkan sebagian wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra…
Jika kita perhatikan terkait keputusan orang hari ini, mau beli apa, percaya isu apa, ikut tren apa, sering dipicu satu…
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan sikap tanpa kompromi pemerintah terhadap impor ilegal pakaian bekas yang dinilai merugikan negara. Ia…