Bapak Michael Kusuma Head Of Investor Relations Sampoerna Agro
“Binokular mempermudah kami dalam memperoleh akses informasi/berita yang up-to-date. Laporan monitoringnya cukup komprehensif dan customizable serta fiturnya sangat berguna seperti news archive searching. Ragam layanan memungkinkan setiap personnel dengan tingkat mobilitas yang cukup tinggi untuk mengakses website/newletters/sms alert”
Bapak Arif Haryanto Corporate Communication Department PT Angkasa Pura I (Persero)
“Binokular adalah sebuah solusi cerdas! Memantau media yang tersebar di 13 daerah di kawasan tengah hingga timur Indonesia dimana bandara Angkasa Pura I berada menjadi mudah dan cepat dengan Binokular. Tingkat akurasi dan relevansi berita yang di-capture patut diacungi jempol. Fasilitas web service Binokular yang lengkap dan user friendly menjadikan pencarian dokumentasi berita menjadi lebih mudah. Binokular juga membantu kami dalam merespon dengan cepat setiap berita negatif yang muncul dengan layanan SMS alert-nya. Salut untuk semua inovasi ini, Binokular!”
Ibu Miranti Hadisusilo Corporate Secretary & Legal Director PT Matahari Department Store Tbk
“Binokular sangat membantu kami dalam melakukan media monitoring, baik untuk berita berkaitan dengan perusahaan, industri dan kompetitor. Informasi up to date itu perlu untuk melakukan analisa pasar dan dapat segera melakukan respon apabila dibutuhkan.”
Bapak Eko Harmonsyah PSHM Bank Indonesia
“Pekerjaan monitoring media menjadi lebih mudah dengan Binokular. Informasi yang diperlukan bisa dicari dengan cepat dan akurat dengan search engine-nya. Tampilan juga cukup user-friendly. Tapi yang paling penting adalah layanan yang responsif dan proaktif dari jajaran Binokular sangat membantu.”
Tingginya curah hujan sepanjang akhir November 2025 telah menyebabkan banjir bandang yang menenggelamkan sebagian wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Dalam tragedi yang memakan banyak korban tersebut, respons pemerintah Indonesia dalam upaya tanggap bencana menuai banyak kritik. Alih-alih berfokus pada penanggulangannya, pembingkaian narasi dan upaya normalisasi justru digencarkan untuk meredam sentimen massa. Pola ini tampak dalam berbagai pernyataan pejabat politik dalam Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto.
“Memang kemarin kelihatannya mencekam ya, kan berseliweran di media sosial, nggak bisa bertemu segala macam. Tapi begitu sampai ke sini sekarang rekan media tadi hadir di lokasi dan tidak hujan.”
Demikian adalah pernyataan dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto. Pernyataan yang dilontarkan tersebut nyatanya dinilai tidak memberikan afirmasi terhadap kecemasan kolektif masyarakat, tetapi justru membuat masyarakat semakin geram. Sebab, pernyataan tersebut terkesan menihilkan imbas dari bencana yang melanda tiga provinsi. Padahal, di hari yang sama pada saat pernyataan itu dikeluarkan, Jumat (28/11), BNPB juga melaporkan sebanyak 174 orang meninggal dunia, 79 orang hilang, dan 12 lainnya luka-luka. Pernyataan yang berbanding terbalik dengan data yang ada menunjukkan bagaimana pernyataan Suharyanto lebih terlihat sebagai pembingkaian narasi ketimbang respons empatik terhadap realitas di lapangan.
Banjir Sumatra sebagai Medan Tarung Kebahasaan
Michel Foucault, dalam karyanya Discipline and Punish (1975), telah mendefinisikan ulang bagaimana kekuasaan modern bekerja. Jika Max Weber, melalui Politics as a Vocation (1919), menekankan monopoli kekerasan sebagai tulang punggung negara dalam melegitimasi kekuasaan, Foucault berargumen bahwa kontrol terhadap bahasa, pengetahuan, institusi, dan regulasi memiliki andil yang jauh lebih besar. Imbasnya, kekuasaan pemerintah dapat terbenam ke dalam aspek yang paling kecil sekalipun, yakni tubuh (bio-politics).
Dalam konteks kebencanaan, rumusan Foucault sangat relevan dalam memaknai penanggulangan banjir Sumatra. Sudah hampir sebulan sejak banjir melanda dan desakan terkait penetapan status sebagai bencana nasional sudah bergema di berbagai pelosok negeri. Bahkan, beberapa pemerintah daerah telah menyatakan ketidaksanggupannya dalam menangani banjir. Bendera putih sebagai tanda “menyerah” pun sudah berkibaran di wilayah terdampak banjir.
Foto 1: Bendera putih di jalan lintas Aceh-Medan sebagai tanda keputusasaan.(Sumber: tribunnews.com)
Namun lagi-lagi, pernyataan normalisasi kembali digalakkan pemerintah. Saat ditanya mengenai status bencana nasional, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa situasi “sudah terkendali” dan semua kekuatan “sudah dikerahkan”. Bahkan, dorongan untuk menerima bantuan dari pihak asing pun tampaknya tidak digubris dan mendapatkan respons yang cenderung arogan dengan menegaskan bahwa pemerintah Indonesia mampu dalam menangani krisis.
Gambar 1: Sebaran sentimen pemberitaan status bencana nasional banjir Sumatra.(Sumber: Newstensity)
Padahal, pernyataan Presiden Prabowo yang menolak penetapan status bencana nasional dan penekanan pada kemampuan pemerintah di masa krisis tidak serta-merta direspons positif. Hal ini dapat dilihat dengan bantuan tools Newstensity milik PT. Binokular Media Utama. Dalam trennya, kaitan antara banjir Sumatra dan status bencana nasional cenderung didominasi oleh pemberitaan bersentimen negatif yang menandakan komunikasi krisis yang dilakukan oleh pemerintah belum sepenuhnya efektif.
Jika dianalisis lebih dalam, pernyataan yang diperoleh publik dari pemerintah dalam merespons bencana justru sering kali berkutat pada pertarungan politik kebahasaan yang diskursif: memperdebatkan mengenai “mampu” vs. “tidak mampu” dan “terkendali” vs. “tidak terkendali”. Sehingga, kecemasan dan tuntutan publik seolah tidak pernah terjawab oleh pernyataan pemerintah yang cenderung dismisif. Padahal, dalam menangani krisis kebencanaan, hadirnya peran pemerintah seharusnya dapat dinilai dari aksi yang nyata dan tindakan yang terukur. Imbasnya, seperti yang sudah dikemukakan Foucault, keputusan politik pemerintah memengaruhi “ketubuhan” masyarakatnya sendiri. Tercatat pada Rabu (17/12), sudah 1.059 orang dinyatakan meninggal dan 577.600 lainnya menjadi pengungsi. Jumlah korban yang terus bertambah ini tidak lepas dari keputusan politik pemerintah dalam penanganan krisis kebencanaan.
Gambar 2: Sebaran deteksi emosi dalam percakapan di X (Twitter) mengenai banjir Sumatra.(Sumber: Socindex)
Jika ditelisik dari sebaran percakapan di media sosial selama 25 November – 17 Desember 2025, tools Socindex mengungkapkan deteksi emosi di media sosial X (Twitter) mengenai banjir Sumatra didominasi oleh kewaspadaan (anticipation) dan disusul oleh kemarahan (anger). Dominannya perasaan waspada menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memberikan perasaan keamanan (reassurance) di tengah krisis. Kondisi tersebut sejalan dengan yang dikemukakan W. Timothy Coombs dalam Situational Crisis Communication Theory (1999) bahwa narasi komunikasi krisis yang berkutat pada denial (pembantahan), yakni dengan mengatakan bahwa sebuah krisis berada “di bawah kendali” atau “di luar kuasa manusia”, justru sering kali lekat dengan upaya melindungi pemegang kuasa, alih-alih korban.
Selain itu, pendekatan denial pada komunikasi krisis juga rentan menghancurkan kepercayaan publik. Terlebih, ketika apa yang dijanjikan bertolak belakang dengan realitas yang ada: situasi disebut berada di bawah kendali, tetapi bantuan tak kunjung datang. Sayangnya, hal tersebut merupakan realitas yang dihadapi korban banjir. Mereka mengeluhkan bahwa bantuan yang tak kunjung datang menyebabkan sebagian dari pengungsi mulai mendirikan posko mandiri. Inisiatif pengungsi ini kembali menegaskan bagaimana kegagalan komunikasi krisis pemerintah dan upaya tanggap bencananya tidak berhasil untuk meredam tingkat kewaspadaan publik.
Gambar 3: Tangkapan layar mengenai pemberitaan warga mendirikan posko mandiri di Pidie Jaya.(Sumber: republika.co.id)
Politik Bahasa Tubuh yang Dipertanyakan?
Tak berhenti pada komunikasi krisis, kegagalan politik kebahasaan pemerintah tidak hanya berada di tataran verbal, tetapi juga bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh beberapa figur politik saat turun ke wilayah bencana. Sebut saja Zulkifli Hasan (Zulhas), Verrell Bramasta, dan Zita Anjani yang menjadi sorotan warganet. Beberapa waktu lalu, “aksi” mereka sempat tertangkap kamera: Zulhas yang membopong karung beras, Verell dengan rompi antipelurunya, dan Zita saat turut membersihkan lumpur.
Gambar 4: Tangkapan layar pemberitaan mengenai Zulhas, Verrell, dan Zita.(Sumber: detik.com dan suara.com)
Namun, bahasa tubuh para figur yang seharusnya menjadi upaya untuk mencerminkan hadirnya para pemimpin di negeri ini, tak lepas dari kritik dan cibiran. Beberapa warganet mengomentari bagaimana atribut Verrell tampak berlebihan, gaya menyapu Zita yang terkesan “tidak natural”, dan Zulhas yang dianggap melakukan pencitraan. Dugaan performativitas pada aksi ketiganya menjadi tuduhan yang tak terbendung dari publik.
Gambar 5: Komparasi pemberitaan figur politik Indonesia terkait banjir Sumatra.(Sumber: Newstensity)
Hal ini dapat dilihat melalui pemberitaan mengenai tokoh-tokoh tersebut dan kaitannya dengan banjir Sumatra. Melalui tools Newstensity, komparasi persebaran berita mengenai banjir Sumatra dan kaitannya dengan ketiga figur politik di atas hampir setengahnya bersentimen negatif. Gaung pemberitaan negatif di media nasional menjadi cerminan daripada keresahan warganet di media sosial. Gestur simbolik dan performativitas politik yang dilakukan, alih-alih menarik simpati masyarakat, malah semakin memperdalam jarak emosional antara pemimpin dan warganya. Ironisnya, keresahan yang sama juga dipertegas oleh Presiden Prabowo sendiri yang sempat mengkritik gelagat pejabat politik yang sibuk berfoto di lokasi bencana.
Epilog dan Membaca Ulang Urgensi Bencana Nasional
Pada akhirnya, banjir Sumatra tidak hanya menunjukkan kegagalan pemerintah dalam upaya tanggap bencana, tetapi juga komunikasi krisis yang masih patut dipertanyakan. Upaya normalisasi dan pembingkaian narasi yang berusaha dilakukan pemerintah nyatanya semakin menyingkap kepasrahan dan ketidakmampuan pemerintah dalam menangani bencana. Langkah untuk mengaburkan realitas melalui bayang-bayang narasi “situasi terkendali” justru terkuak dengan sendirinya ketika berhadapan dengan realitas di lapangan.
Polemik terkait penanggulangan bencana adalah soal pengakuan. Pengakuan bahwa krisis yang ada melampaui kapasitas daerah. Pengakuan bahwa negara belum sepenuhnya hadir. Pengakuan bahwa ratusan nyawa yang melayang dan ribuan lainnya kehilangan rasa aman tidak dapat direduksi menjadi sebuah statistik belaka.
Desakan atas penetapan bencana nasional pun telah berkumandang dari berbagai pakar dan non-governmental organization. Surat terbuka oleh Amnesty International Indonesia, yang merujuk Undang-Undang (UU) No. 11 Tahun 2005 tentang ratifikasi dari Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR), kembali mengingatkan kewajiban negara untuk mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia, termasuk bantuan internasional. Pilihan politik untuk mengabaikan status kebencanaan dan menutup pintu bantuan asing semakin membuka tabir yang berusaha diungkap Foucault: bahwa akhirnya tubuh kita, hidup dan matinya, sepenuhnya berada di bawah kuasa negara. Di titik inilah peran negara diuji. Keputusan kebijakan yang diambil ke depan adalah tolak ukur keberanian: keberanian untuk mengakui kegagalan, keberanian untuk mengamini penderitaan, dan yang terpenting, keberanian untuk berdiri di sisi warganya yang paling rentan.
Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian publik kembali tertuju pada dinamika kepemimpinan di tingkat daerah. Berbagai kasus yang melibatkan kepala daerah…
Sebuah Isu sempat viral pada 21 Februari lalu,Terkait dengan Alumni Mahasiswa/Mahasiswi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dwi Sasetyaningtyas dan suaminya…
Akhir-akhir ini istilah SEAblings menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial. Fenomena ini mencuat setelah ketegangan antara netizen Asia Tenggara…
Keputusan pemerintah mengangkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang efektif berlaku mulai 1…
Perkembangan dunia marketing dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang sangat signifikan, terutama sejak digital marketing menjadi strategi utama yang…
Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan hak konstitusional yang melekat dan dilindungi oleh undang-undang. Corong ekspresi kekecewaan warga negara kepada institusi dan pejabat…
Januari 2026, jagat maya dihebohkan dengan fenomena viralnya buku berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth” karya aktris Aurelie Moeremans. Buku ini…
Pemerintah mulai membuka arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian….
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi, Informasi, dan Digital (Komdigi) resmi memblokir penggunaan Grok di platform X (dulunya Twitter) untuk sementara…