SPPG ke PPPK: Dinamika Program-Based Staffing dalam Reformasi ASN
Keputusan pemerintah mengangkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang efektif berlaku mulai 1…
Awal Agustus 2025 menjadi bulan yang panas di Kabupaten Pati. Bukan karena suhu udara, tapi karena tensi politik yang meledak hanya dalam hitungan hari. Nama Bupati Sudewo yang sebelumnya mungkin hanya sesekali muncul di pemberitaan nasional, mendadak memenuhi halaman media, linimasa media sosial, hingga obrolan warung kopi. Semua berawal dari satu kebijakan: kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sebesar 250%.
Menggunakan alat media monitoring dan media sosial monitoring khusus politik Polmetrik, gelombang percakapan tentang Sudewo di media sosial Pati melonjak hampir 12 kali lipat antara 4–13 Agustus 2025. Jika sebelumnya topik seputar Bupati hanya didominasi laporan pembangunan dan kunjungan kerja, kini 80% percakapan berubah menjadi kritik dan tuntutan.






Hari ini menjadi puncak demonstrasi. Meski PBB sudah dibatalkan, puluhan ribu orang (beberapa sumber menyebut hingga 100 ribu) turun ke jalan. Mereka tidak hanya menuntut pencabutan kebijakan pajak, tapi juga pemakzulan Sudewo—narasi yang sebelumnya sempat terekam.
Selain itu, massa aksi juga menuntut beberapa hal lain:
Di atas dashboard, krisis ini tercatat sebagai rekor terbanyak Sudewo mendapat interaksi publik: 110 ribu engagement dari berbagai platform. Kantor berita pun seolah tidak ingin tertinggal. Terpantau 3.676 artikel berita tentang Sudewo dan Pati muncul dalam waktu sehari.

Indeks persepsi publik turun hingga menyentuh 0,01 atau turun 400% lebih sejak 11 Agustus. Sentimen masih didominasi tone negatif dan netral sensitif dengan narasi tolak kenaikan pajak dan pemakzulan Sudewo.
Di lapangan, kericuhan pecah—botol dilempar, pagar didorong, mobil polisi dibakar. Aparat merespons dengan water cannon dan gas air mata. DPRD pun membentuk Pansus hak angket untuk mengusut kebijakan dan tindakan Bupati.
Jika melihat tren data, krisis ini punya pola yang khas. Ada tiga indikator yang mencolok:

Kasus Sudewo di Pati memperlihatkan bagaimana respons defensif justru memperbesar krisis. Langkah pembatalan kenaikan PBB dan permintaan maaf pada 7–8 Agustus memang sempat menurunkan tensi, tetapi data percakapan menunjukkan bahwa publik sudah terlanjur mengkristalkan kekecewaan. Narasi yang beredar tidak lagi sekadar soal teknis tarif pajak, melainkan meluas ke isu pendidikan, alun-alun, videotron, hingga tata kelola rumah sakit.
Artinya, ketika Sudewo baru bergerak, percakapan publik sudah beralih dari kritik kebijakan menuju tuntutan pemakzulan. Damage control yang datang terlambat tidak cukup membalikkan arus sentimen negatif yang stabil di atas 60% sejak 5 Agustus.
Krisis yang meledak sejak 5 Agustus berujung pada keruntuhan citra politik Sudewo. Berdasarkan pemantauan, indeks persepsi publik terhadap dirinya merosot sangat tajam: turun 2.216,22% hanya dalam delapan hari. Dari posisi relatif stabil pada awal bulan, skor persepsi publik anjlok hingga menyentuh angka 0,06 pada 13 Agustus.
Angka ini bukan sekadar penurunan, melainkan sinyal alarm politik yang sangat serius. Bagi seorang kepala daerah, penurunan sebesar itu mencerminkan hilangnya legitimasi di mata masyarakat. Di ranah wacana publik, sentimen negatif yang konsisten di atas 60% menunjukkan bahwa krisis sudah tidak lagi bisa diredam dengan klarifikasi atau permintaan maaf.
Secara formal, DPRD membentuk Pansus hak angket untuk mengusut kebijakan Bupati. Namun, terlepas dari hasil politik di lembaga tersebut, tren data memperlihatkan bahwa Sudewo sudah kehilangan modal kepercayaan yang selama ini menopang kepemimpinannya.
Kisah Sudewo di Pati bukan hanya soal kenaikan PBB 250% yang berujung dibatalkan. Lebih jauh, ini adalah pelajaran bagaimana krisis komunikasi dan kebijakan yang salah urus dapat berubah menjadi krisis legitimasi dalam hitungan hari. Di era media sosial, jarak antara “isu teknis” dan “gerakan massa” sangat tipis—cukup satu kebijakan yang dirasakan tidak adil, ditambah pernyataan publik yang memicu emosi kolektif, untuk memantik gelombang besar.
Bagi Sudewo, ini adalah peringatan bahwa jabatan kepala daerah bukan hanya soal administrasi, tetapi juga soal menjaga rasa percaya masyarakat. Begitu kepercayaan runtuh, bahkan langkah korektif yang benar pun bisa kehilangan makna.
Penulis: Fajar Yudha Susilo, Ilustrasi: Aan K. Riyadi
Keputusan pemerintah mengangkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang efektif berlaku mulai 1…
Perkembangan dunia marketing dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang sangat signifikan, terutama sejak digital marketing menjadi strategi utama yang…
Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan hak konstitusional yang melekat dan dilindungi oleh undang-undang. Corong ekspresi kekecewaan warga negara kepada institusi dan pejabat…
Januari 2026, jagat maya dihebohkan dengan fenomena viralnya buku berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth” karya aktris Aurelie Moeremans. Buku ini…
Pemerintah mulai membuka arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian….
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi, Informasi, dan Digital (Komdigi) resmi memblokir penggunaan Grok di platform X (dulunya Twitter) untuk sementara…
Beberapa tahun lalu, mobil listrik seperti sebuah cerita masa depan yang masih sangat jauh. Mobil listrik saat itu dipandang mahal,…
Bencana hidrometeorologi menghantam tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Siklon Tropis Senyar yang berputar di…
Tingginya curah hujan sepanjang akhir November 2025 telah menyebabkan banjir bandang yang menenggelamkan sebagian wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra…
Jika kita perhatikan terkait keputusan orang hari ini, mau beli apa, percaya isu apa, ikut tren apa, sering dipicu satu…