Preloader
Binokular Hubungi Kami
Testimoni

Politikus Perempuan PDIP di DIY, Siapa Paling Populer?

Di tengah dinamika politik yang sering dianggap kental dengan figur laki-laki, nama Endah Subekti Kuntariningsih mencuat setelah terpilih sebagai bupati perempuan kedua sepanjang sejarah Gunungkidul. Langkahnya memimpin daerah yang terkenal dengan walang goreng ini bukan sekadar simbol kesetaraan gender, tetapi juga bukti bahwa kepemimpinan perempuan bisa menjadi kekuatan yang diperhitungkan.

Gaya kepemimpinan kader PDIP ini terbilang dekat dengan rakyat. Dia kerap hadir di acara tradisi desa, duduk lesehan bersama warga, bahkan tertangkap mempromosikan makanan khas seperti gatot dan thiwul. Citranya di media sosialnya seolah mengatakan: “Endah bukan hanya bupati, melainkan “ibu kampung” yang hadir di tengah masyarakat.”

Namun, Endah bukan satu-satunya wajah perempuan PDI Perjuangan di panggung politik DIY. Dari partai yang sama dengannya, ada 3 politikus perempuan yang ciamik membranding diri di media sosial dengan karakter kuat.

Chisya Ayu Puspitaweni, anggota DPRD termuda di Sleman yang sempat menjadi sorotan gen Z Sleman. Ada pula Andriana Wulandari, ketua komisi B DPRD DIY yang kerap menjadi bintang berita lokal dengan pernyataan-pernyataannya yang vokal. Selain itu, politikus perempuan muda, Mega Nusantara Wati di DPRD Gunungkidul.

Semuanya, meski berbeda usia, gaya, dan cara berpolitik, menjadi gambaran bagaimana PDIP di DIY menempatkan perempuan di panggung politik daerah. Lalu, siapa yang paling populer?

Wajah Perempuan PDIP di DIY

Endah Subekti Kuntariningsih – Bupati Gunungkidul

Endah bukan tipe politikus yang sekadar hadir di acara seremonial. Ia mengangkat isu-isu kedaerahan seperti budaya jamasan pusaka dan tradisi petik laut sebagai bagian dari identitas Gunungkidul. 

Endah juga cukup up to date dengan tren yang ada di media sosial. Terpantau akun media sosial TikToknya turut meramaikan tren farming aura bertepatan dengan agenda petik laut nelayan Sadeng.

Di platform instagram, Endah juga aktif mengupdate kegiatannya baik sebagai Bupati Gunungkidul maupun kehidupan personal. Endah bahkan mengkhususkan akun untuk dirinya pribadi dan figur bupati.

Endah juga piawai mengelola isu sebagai konten tinggi engagement. Salah satunya saat dia merespon penipu penerimaan ASN yang mencatut namanya. Kemarahan Endah dibungkus dalam konten dramatis membanting asbak di hadapan pelaku. Video itu viral hingga mendulang banyak interaksi dan sorotan media.

Chisya Ayu – Anggota DPRD Termuda Sleman

Chisya Ayu menjadi representasi generasi muda perempuan di politik lokal. Pada pemilihan lalu, Chisya memanfaatkan platform Instagram sebagai media kampanye. Chisya menarasikan slogan bertajuk “Mabur,” akronim dari Muda Amanah Bekerja untuk Rakyat.

sumber: instagram

Sama seperti Endah, Chisya membedakan akun pribadi dan akun “politik” miliknya. Gaya berpolitik Chisya pun tak kalah populis. Chisya intens mempublikasi kegiatan sarasehan bersama masyarakat di dapilnya. Kedekatan dengan masyarakat dan polesan perempuan Gen Z berhasil mengantarkannya masuk gedung parlemen Sleman.

Sayangnya, akun instagram Chisya tampak sepi sejak sebulan terakhir. Chisya juga tidak cukup mendapat atensi media massa. 

Padahal, di era politik digital, konsistensi mengelola kanal komunikasi publik adalah kunci untuk mempertahankan atensi. Kini, meski masih aktif di DPRD, gaung Chisya di ranah daring jauh meredup dibanding saat kampanye.

Andriana Wulandari – Ketua Komisi B DPRD DIY

Perempuan asal Bantul ini merupakan kader PDI Perjuangan yang menempati posisi ketua Komisi B DPRD provinsi DIY. Sebagai politikus yang mengepalai urusan ekonomi dan keuangan di parlemen, Andriani menjadi tokoh politik yang cukup “media darling” di DIY. 

Pola komunikasi Andriana berbeda dari dua kader PDIP sebelumnya. Dia mengandalkan media massa sebagai corong utama. Nama Andriana Wulandari tercatut hingga 61 kali dengan pencarian DPRD DIY. Jumlah ini menempatkannya sebagai tokoh politik ketiga terbanyak disebut dalam berita selama periode Juli 2025.

Jika dibandingkan dengan dengan instagram pribadinya, sepanjang Juli 2025, akun instagram Andriana terpantau hanya mengunggah enam konten. Konten yang diunggah pun merupakan konten kolaborasi dari akun instagram DPRD DIY. 

Mega Nusantara Wati – Anggota DPRD Gunungkidul

Perempuan yang akrab disapa Mbak Mega ini menduduki kursi parlemen Komisi B DPRD Gunungkidul. Mega melenggang ke gedung parlemen melalui dapil 2 Gunungkidul meliputi wilayah Nglipar, Ngawen, Patuk, dan Gedangsari.

Nama Mega memang tidak sesanter kolega partainya—Endah di media sosial maupun media massa. Tapi, hasil pemilu menempatkan dirinya sebagai politikus dengan suara terbanyak dibandingkan kader PDI Perjuangan lain di dapil yang sama. Mega juga tidak terlalu aktif bermedia sosial. Sejak awal hingga di penghujung Juli, aktivitas akun instagram dan TikTok miliknya terpantau sepi. Media massa lokal juga tidak banyak menyorot Mega. 

Namun, dalam konten-kontennya sepanjang Juli, Mega konsisten memposisikan diri sebagai penyambung lidah rakyat. Dia mengunggah sarasehan bersama warga dengan tajuk penjaringan aspirasi. 

Popularitas & Isu yang Diangkat

Hasil monitoring media massa dan media sosial menunjukkan perbedaan yang cukup jelas di antara keempatnya.

  • Endah Subekti mencatat engagement yang tinggi di media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Isu yang sering ia angkat adalah potensi lokal, budaya daerah, pariwisata, serta narasi pembangunan desa. Dari segi sentimen, mayoritas positif, dengan sebagian kecil kritik terkait kebijakan spesifik.

  • Chisya Ayu memiliki rekam jejak digital yang kuat di masa kampanye, tetapi grafik popularitasnya menurun setelah akun media center kampanyenya berhenti aktif. Isu yang diangkat kini lebih banyak muncul di forum DPRD, tanpa gaung besar di publik.
  • Andriana Wulandari konsisten muncul di pemberitaan lokal, seringkali terkait isu UMKM dan potensi ekonomi, tetapi jarang melakukan amplifikasi pesan melalui kanal pribadinya. Sentimen publik cenderung netral hingga positif, namun engagement di platform digital rendah.
  • Mega Nusantara Wati tidak terlalu banyak melakukan publikasi di akun media sosial pribadinya. Akan tetapi, Mega konsisten menunjukkan perannya sebagai penyambung lidah rakyat. Konten instagramnya lebih banyak mengunggah video pertemuan warga. Atensi kecil dengan sentimen publik positif yang tinggi. 

Secara kuantitatif, Endah berada di puncak popularitas untuk skala DIY, baik di media massa maupun media sosial. Ia menggabungkan kehadiran offline yang kuat dengan distribusi pesan digital yang konsisten, sehingga membangun citra yang mudah diingat.

Kekuatan Endah terletak pada konsistensi dan relevansi. Ia memahami bahwa di era politik saat ini, pesan politik tidak cukup hanya dibangun di rapat resmi atau spanduk jalanan. Ia membawa isu lokal ke panggung digital dengan cara yang mudah dicerna publik.

Dari perspektif PDIP, temuan ini memberi pesan strategis: kader perempuan daerah yang mampu mengelola komunikasi digital berpotensi menjadi tokoh politik yang signifikan, bahkan memungkinkan untuk bersaing narasi dengan figur nasional. 

Dari Gunungkidul ke Senayan

Untuk memberi gambaran lebih luas, mari bandingkan Endah Subekti dengan dua figur perempuan di panggung nasional: Puan Maharani (PDIP) dan Tsamara Amany (mantan PSI).

Puan Maharani memiliki kekuatan jaringan politik yang masif, didukung posisi strategis sebagai Ketua DPR RI. Volume percakapan tentang Puan di media sosial masih yang tertinggi di antara ketiganya—10.767 pembicaraan dalam 31 hari terakhir—meskipun justru mengalami penurunan signifikan dibanding periode sebelumnya. Menariknya, pemberitaan media mainstream tentang Puan justru meningkat 48,28%, menandakan eksposurnya di kanal formal tetap kuat meski engagement organik di media sosial melemah. Persepsi publiknya berada di angka 0,87, relatif rendah untuk ukuran figur nasional, namun tren peningkatannya menunjukkan adanya perbaikan citra.

Tsamara Amany menawarkan kontras yang tajam. Meskipun tidak lagi menjabat di struktur partai, ia mempertahankan positioning sebagai politikus muda yang progresif. Volume percakapannya (2.488) memang jauh di bawah Puan maupun Endah, tapi kenaikannya nyaris 100% dalam sebulan terakhir menandakan daya tariknya di media sosial tetap terjaga. Persepsi publik terhadap Tsamara mencapai 1,94—tertinggi di antara ketiganya—dengan dominasi sentimen positif. Namun, pemberitaan media mainstream tentangnya sangat minim, hanya 30 artikel, yang menunjukkan ia mengandalkan kanal digital pribadi dan engagement langsung dengan audiens, bukan sorotan media besar. Tidak tanggung, berdasarkan pemantauan terdapat 4 akun TikTok berafiliasi kepada Tsamara.

Endah Subekti berdiri di tengah-tengah kedua spektrum ini. Ia mencatat 5.902 percakapan—meningkat hampir 92%—dan didukung jangkauan pemberitaan 391 artikel. Walau angka ini kecil dibanding Puan, kenaikannya cukup konsisten di level lokal hingga sesekali menembus media nasional. Tantangannya ada di persepsi publik yang hanya 0,72, bahkan turun signifikan 61,92% dibanding periode sebelumnya. Fenomena ini bisa disebabkan oleh sentimen campuran terhadap momen viral seperti “banting asbak” yang mencuri perhatian tapi juga memicu kontroversi. Platform dominannya adalah TikTok dan Instagram, selaras dengan basis dukungan lokal yang senang konten visual, narasi budaya, dan isu kedaerahan seperti Gatot, jamasan pusaka, dan sedekah laut

Analisis & Makna Temuan

Ketiganya menunjukkan pola komunikasi politik yang berbeda:

  • Puan Maharani mewakili model top-down: kekuatan pemberitaan media, mesin politik besar, dan jaringan struktural partai.
  • Tsamara Amany mengandalkan bottom-up engagement dari audiens media sosial, membangun citra personal tanpa bergantung pada sorotan media arus utama.
  • Endah Subekti berada di jalur hibrida—memadukan ekspos media lokal dan narasi personal di media sosial—namun masih mencari keseimbangan antara popularitas dan persepsi positif.

Dari sisi brand positioning, Endah lebih dekat ke pola Tsamara: aktif membangun citra di media sosial, memanfaatkan narasi personal, dan mengemas isu lokal menjadi cerita yang menarik. Perbedaannya, Tsamara bermain di isu-isu nasional dan advokasi kebijakan, sementara Endah masih berfokus pada simbol budaya dan kearifan lokal.

Persepsi publik menjadi indikator penting di sini. Tsamara unggul karena konsistensi dan segmentasi audiens yang jelas, sedangkan Endah masih harus mengelola citra agar popularitasnya tidak tergerus oleh kontroversi. Puan, meski persepsinya rendah, tetap memiliki kekuatan struktural yang membuat posisinya aman di panggung nasional.

Penutup

Dari hasil pengamatan dan analisis data, Endah Subekti Kuntariningsih saat ini adalah politikus perempuan PDIP paling populer di DIY. Ia mampu memadukan kehadiran di lapangan, penguasaan isu lokal, dan komunikasi digital yang konsisten.

Chisya Ayu, Andriana Wulandari, dan Mega Nusantara punya modal masing-masing. Chisya dengan citra muda progresif, Andriana dengan karakter vokal dan unik, dan Mega yang aktif membersamai masyarakat. Akan tetapi ketiganya perlu mengoptimalkan strategi komunikasi publik untuk memperluas pengaruh.

Bagi PDIP, ini adalah peluang emas untuk memperkuat kader perempuan daerah yang sudah terbukti populer di basisnya. Popularitas berbasis lokal bukan hanya soal elektabilitas di daerah, tetapi juga potensi menjadi amunisi partai di panggung nasional.

Seperti halnya di dunia hiburan, popularitas adalah modal yang harus dirawat. Endah telah membuktikan bahwa strategi yang memadukan tradisi, narasi personal, dan kehadiran digital dapat membawa politikus daerah menembus sorotan publik. 

Pertanyaannya kini: apakah Endah akan menapak jalur Tsamara untuk membangun citra nasional, atau bertahan sebagai ikon lokal yang kuat?

Analisis Lainnya

Babak Baru Komedi ala Pandji

Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan hak konstitusional yang melekat dan dilindungi oleh undang-undang. Corong ekspresi kekecewaan warga negara kepada institusi dan pejabat…

“Broken Strings”: Saat Narasi Penyintas Mengubah Isu Privat Menjadi Agenda Publik

Januari 2026, jagat maya dihebohkan dengan fenomena viralnya buku berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth” karya aktris Aurelie Moeremans. Buku ini…

APBN 2026 di Persimpangan Narasi: Antara Optimisme Fiskal dan Kewaspadaan Publik

Pemerintah mulai membuka arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian….

Grok dan Buruk Wajah Industri AI

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi, Informasi, dan Digital (Komdigi) resmi memblokir penggunaan Grok di platform X (dulunya Twitter) untuk sementara…

Elektrifikasi yang Membumi: Akankah Mobil Listrik Mengubah Peta Transportasi Indonesia?

Beberapa tahun lalu, mobil listrik seperti sebuah cerita masa depan yang masih sangat jauh. Mobil listrik saat itu dipandang mahal,…

Bencana Sumatera dan Krisis Empati Pemerintah

Bencana hidrometeorologi menghantam tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Siklon Tropis Senyar yang berputar di…

Politik Kebahasaan dan “Kurang” Tanggap Bencana Pemerintah Indonesia dalam Merespons Banjir Sumatra

Tingginya curah hujan sepanjang akhir November 2025 telah menyebabkan banjir bandang yang menenggelamkan sebagian wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra…

Pengaruh Influencer di Indonesia

Jika kita perhatikan terkait keputusan orang hari ini, mau beli apa, percaya isu apa, ikut tren apa, sering dipicu satu…

Jalan Terjal Purbaya Menjegal Impor Pakaian Bekas Ilegal

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan sikap tanpa kompromi pemerintah terhadap impor ilegal pakaian bekas yang dinilai merugikan negara. Ia…

Purbaya Buka Kembali Wacana Tertunda “Redenominasi Rupiah”: Publik Pro dan Kontra

Sebulan terakhir, para elite politik, ekonom, dan masyarakat Indonesia dikejutkan dengan pernyataan dari Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa yang…