Preloader
Binokular Hubungi Kami
Testimoni

Viralitas Pacu Jalur dan Budaya Indonesia

Olah raga pacu jalur belum lama ini menjadi viral dan dikenal masyarakat luas baik di Indonesia maupun luar negeri dalam kurun waktu dua minggu belakangan. Dipicu oleh video Rayyan Arkan Dikha, anak berusia 11 tahun di Riau, yang bertindak sebagai Togak Luan, yaitu penari di ujung perahu yang bertugas memberi semangat kepada para awak perahu. Dalam video yang tersebar luas, dia mengenakan pakaian adat Teluk Belanga dengan penutup kepala khas Melayu Riau. Ia berdiri di haluan perahu balap yang didayung oleh setidaknya sebelas orang dewasa. Gaya tarian yang khas dan terlihat mudah ditiru ini menjadi daya tarik besar untuk direplikasi oleh banyak orang sehingga menjadi salah satu TikTok Dance yang populer. Klub sepakbola Prancis, Paris Saint-Germain, mengunggah video di TikTok yang meniru tarian balap perahu itu dengan judul: “Auranya sampai ke Paris.” Video ini telah ditonton lebih dari tujuh juta kali hanya dalam sepuluh hari. Keesokan harinya, Travis Kelce, pemain NFL dan pacar bintang pop Taylor Swift, mengunggah video versinya sendiri. Video Travis sejak itu telah ditonton lebih dari empat belas juta kali.

Berdasar dasbor Socindex, dalam periode 1 Juli hingga 15 Juli 2025, tertangkap sebanyak 58.884 pembicaraan yang berupa post, share, reply, dan comment. Sebaran audiens mencapai angka fantastis sebanyak 1.001.395.415 audiens.

Viralitas ini tidak hanya dipicu oleh sebaran perbincangan media sosial lokal, namun juga mancanegara. Hal ini tertangkap dalam jaring sebaran SNA, akun-akun internasional seperti MotoGP membagikan selebrasi pembalap Marcmarquez93 yang berjoget “aura farming” ala Rayyan si Pacu Jalur. Akun-akun seperti ini berperan besar dalam sebaran perbincangan tarian viral ini.

Viralnya tarian Rayyan ini merupakan salah satu bentuk viralitas yang terjadi secara organik. Artinya, dominasi perbincangan diisi oleh akun-akun yang dikendalikan langsung oleh manusia tanpa automatisasi. Bukan bot/robot dari akun media sosial yang diduga dikendalikan melalui perangkat lunak yang diprogram untuk memposting konten berulang secara otomatis.

Hal menarik lainnya terlihat dalam demografi akun-akun yang meramaikan perbincangan di media sosial. Demografi ini didominasi oleh kalangan laki-laki dalam rentang umur 31-35 tahun. Fenomena ini menjadi hal yang unik karena umumnya tren tarian viral TikTok didominasi oleh kalangan remaja perempuan.

Viralnya tarian ini membuka harapan agar olah raga lokal Indonesia bisa dikenal dunia, dengan memanfaatkan momentum viral yang menarik banyak orang untuk mengenal dan mempelajari satu dari banyak budaya asli Indonesia. Hal ini diungkapkan salah satunya oleh akun @MikaelDewabrata, yang mengkritisi Kementerian Kebudayaan agar memanfaatkan momentum promosi kebudayaan asli Indonesia.

Pemanfaatan momentum ini juga seharusnya diinisiasi oleh pemerintah Indonesia. Penyanyi Melly Mike, rapper asal Amerika Serikat, viral karena lagunya dipakai untuk mengiringi video challenge TikTok Dance pacu jalur di media sosial. Viralnya lagu Melly Mike membuatnya ingin tampil di Festival Pacu Jalur 2025, dia merasa lagunya menjadi dikenal berkat pacu jalur. Dia pun berinisiatif datang sendiri tanpa dibayar dan sudah mengontak panitia. Sampai saat ini belum ada langkah nyata dari pemerintah kita untuk memanfaatkan perhatian yang muncul dari momen viral ini, yang sesungguhnya sangat disayangkan.

Penulis: Johanna Manalu (Socindex), Ilustrasi: Aan K. Riyadi

Analisis Lainnya

SPPG ke PPPK: Dinamika Program-Based Staffing dalam Reformasi ASN

Keputusan pemerintah mengangkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang efektif berlaku mulai 1…

UGC dalam Marketing: Cara Konten Pengguna Menang Saat Iklan Makin Diabaikan

Perkembangan dunia marketing dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang sangat signifikan, terutama sejak digital marketing menjadi strategi utama yang…

Babak Baru Komedi ala Pandji

Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan hak konstitusional yang melekat dan dilindungi oleh undang-undang. Corong ekspresi kekecewaan warga negara kepada institusi dan pejabat…

“Broken Strings”: Saat Narasi Penyintas Mengubah Isu Privat Menjadi Agenda Publik

Januari 2026, jagat maya dihebohkan dengan fenomena viralnya buku berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth” karya aktris Aurelie Moeremans. Buku ini…

APBN 2026 di Persimpangan Narasi: Antara Optimisme Fiskal dan Kewaspadaan Publik

Pemerintah mulai membuka arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian….

Grok dan Buruk Wajah Industri AI

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi, Informasi, dan Digital (Komdigi) resmi memblokir penggunaan Grok di platform X (dulunya Twitter) untuk sementara…

Elektrifikasi yang Membumi: Akankah Mobil Listrik Mengubah Peta Transportasi Indonesia?

Beberapa tahun lalu, mobil listrik seperti sebuah cerita masa depan yang masih sangat jauh. Mobil listrik saat itu dipandang mahal,…

Bencana Sumatera dan Krisis Empati Pemerintah

Bencana hidrometeorologi menghantam tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Siklon Tropis Senyar yang berputar di…

Politik Kebahasaan dan “Kurang” Tanggap Bencana Pemerintah Indonesia dalam Merespons Banjir Sumatra

Tingginya curah hujan sepanjang akhir November 2025 telah menyebabkan banjir bandang yang menenggelamkan sebagian wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra…

Pengaruh Influencer di Indonesia

Jika kita perhatikan terkait keputusan orang hari ini, mau beli apa, percaya isu apa, ikut tren apa, sering dipicu satu…