SEAblings: Solidaritas Unik Netizen Asia Tenggara
Akhir-akhir ini istilah SEAblings menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial. Fenomena ini mencuat setelah ketegangan antara netizen Asia Tenggara…
Jika kita perhatikan terkait keputusan orang hari ini, mau beli apa, percaya isu apa, ikut tren apa, sering dipicu satu hal: konten dari kreator yang dianggap “dekat” dan relevan. Di situlah pengaruh influencer di Indonesia bekerja: mengubah perilaku, membentuk opini, dan menggerakkan aksi. Kadang untuk hal baik, kadang juga sebaliknya.
Fenomena ini menguat sejak pertengahan 2010-an, saat media sosial berkembang cepat, dari Facebook, YouTube, Twitter, Instagram, sampai TikTok, dan orang mulai mencari figur yang cocok dengan identitas serta gaya hidup mereka. Dampaknya lalu merambat ke pemasaran, opini publik, hingga standar gaya hidup pengikutnya. Di titik ini, pengaruh influencer di Indonesia bukan lagi “hiburan”, tapi faktor sosial yang nyata.

Di dunia brand, pengaruh influencer di Indonesia terasa paling jelas: mendorong orang dari “tahu” jadi “mau”, lalu “beli”. Ini terjadi karena konten influencer sering terasa lebih personal dibanding iklan biasa.
Influencer juga bisa menjadi rujukan pandangan publik karena mereka membangun kredibilitas, memberi informasi, hiburan, dan rasa “pertemanan” yang membuat followers gampang mengikuti opini atau keputusan mereka. Karena itu, pengaruh influencer di Indonesia bisa jadi pedang bermata dua: edukatif atau manipulatif.
Yang sering dilupakan: semakin tinggi kepercayaan audiens, semakin besar risiko saat informasi keliru ikut tersebar.
Konten influencer membentuk “standar ideal” yang ditiru: cara berpakaian, tempat nongkrong, pola makan, bahkan pilihan karier. Di sisi positif, ini bisa memicu inspirasi. Di sisi negatif, bisa mendorong tekanan sosial, FOMO, dan konsumsi impulsif. Lagi-lagi, pengaruh influencer di Indonesia bukan cuma soal iklan, tapi juga soal arah budaya populer.
Umumnya influencer dibagi berdasarkan jumlah followers. Semakin besar followers, biasanya semakin luas jangkauan, tapi kedekatan bisa berbeda. Memahami kategori ini penting agar pengaruh influencer di Indonesia yang kamu targetkan sesuai tujuan.

Kalau kamu bertanya apa kunci terbesar pengaruh influencer di Indonesia, jawabannya sederhana: trust. Saat audiens percaya, mereka lebih mau mendengar, lebih cepat menyebarkan, dan lebih gampang bertindak. Itulah sebabnya brand yang asal pilih influencer, hanya karena followers besar, sering gagal. Trust audiensnya belum tentu cocok dengan produk.
Contoh nyata pengaruh influencer di Indonesia terlihat dari aksi Ferry Irwandi. Dalam konteks bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ia membuka donasi dan dana yang terkumpul menembus Rp10,374 miliar dari 87.605 penyumbang dalam 24 jam (Selasa, 2 Desember 2025).

Dari analisis Socindex, pada periode 28 November sampai 10 Desember 2025 terdapat 51.002 percakapan di Instagram yang me-mention atau berkomentar terkait isu tersebut. Akun @irwandiferry tercatat membuat 69 unggahan dengan total engagement 22.579.875.

Pelajarannya jelas: pengaruh influencer di Indonesia bisa menggerakkan aksi sosial cepat karena kombinasi audiens besar, narasi yang membangun kedekatan emosional, dan update real-time yang menjaga kepercayaan.
Kalau tujuanmu juga pemasaran produk, pakai pendekatan ini:
Saat peran influencer makin luas, Indonesia disebut memiliki lebih dari 863.000 influencer aktif pada 2024. Artinya, memilih manual akan memakan waktu dan rawan bias.
Di sinilah pendekatan data membantu. Fitur influencer di Socindex dapat mengelompokkan influencer berdasarkan kategori followers, niche, serta konten kolaborasi yang pernah dibuat. Ini berguna untuk kebutuhan pemasaran digital yang menghubungkan brand dengan kreator konten. Dengan cara ini, pengaruh influencer di Indonesia bisa dipetakan lebih cepat dan lebih objektif.
Influencer bisa membawa dampak positif (donasi, inspirasi) dan negatif (penipuan, tekanan mental, manipulasi). Karena itu, kalau kamu memakai influencer untuk marketing, kamu juga sedang “meminjam” reputasi mereka, dan ikut menanggung risikonya.
Kesimpulannya, pengaruh influencer di Indonesia nyata dan luas: dari belanja harian sampai gerakan sosial. Kalau tujuanmu informasi sekaligus pemasaran, kuncinya bukan “siapa yang paling terkenal”, melainkan “siapa yang paling dipercaya oleh audiens yang tepat”. Idealnya dipilih dengan data, bukan feeling.
Akhir-akhir ini istilah SEAblings menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial. Fenomena ini mencuat setelah ketegangan antara netizen Asia Tenggara…
Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya yang merupakan Sekretaris Kabinet Republik Indonesia kini menjalani tiga peran besar sekaligus : sebagai pejabat…
Keputusan pemerintah mengangkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang efektif berlaku mulai 1…
Perkembangan dunia marketing dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang sangat signifikan, terutama sejak digital marketing menjadi strategi utama yang…
Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan hak konstitusional yang melekat dan dilindungi oleh undang-undang. Corong ekspresi kekecewaan warga negara kepada institusi dan pejabat…
Januari 2026, jagat maya dihebohkan dengan fenomena viralnya buku berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth” karya aktris Aurelie Moeremans. Buku ini…
Pemerintah mulai membuka arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian….
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi, Informasi, dan Digital (Komdigi) resmi memblokir penggunaan Grok di platform X (dulunya Twitter) untuk sementara…
Beberapa tahun lalu, mobil listrik seperti sebuah cerita masa depan yang masih sangat jauh. Mobil listrik saat itu dipandang mahal,…
Bencana hidrometeorologi menghantam tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Siklon Tropis Senyar yang berputar di…